Minggu, 18 Oktober 2009

SAATNYA YANG MUDA BEREKSPRESI

Catatan dari Temu sastra dan Peluncuran Buku “Dunia X”
Oleh : Fredy Sreudeman Wowor

Sebuah iven kebudayaan kembali dilakukan di Sonder-Minahasa. Puluhan anak muda yang berasal dari organisasi-organisasi budaya yang ada di seluruh wilayah Manado dan Minahasa seperti Sanggar Dudoku Wuwuk, Teater Ungu Unima Tondano, Komunitas Pekerja Sastra Sulut (KONTRA), Komunitas SoeSube Koha, Teater Kronis Fakultas Sastra Unsrat Manado, Teater Eben Haezer Treman, Rumah Seni Klabat Maumbi berkumpul di Studio X Sonder. Mereka datang menghadiri undangan untuk mengikuti Temu Sastra dan Peluncuran Buku berjudul Dunia X karya Kevin M. Eman, Karina J. Eman, Jacklyn L. Igir, Deibi Igir dan Karlita Eman.
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2 September 2005 dan dimulai sekitar jam 3 Sore diawali dengan doa syukur oleh Eldis Kaunang Bendahara Studio X dan dilanjutkan dengan peluncuran buku serta diskusi sastra. Acara berakhir pukul 17.30 WITA.
Dalam diskusi yang bertema “Saatnya yang muda berXpresi” ini, Greenhill Glanvon Weol,S.S. yang menjadi pembicara utama mengatakan bahwa,”Sekarang adalah waktunya bagi kita kaum muda untuk dengan sadar mengambil bagian secara aktif dalam meletakkan dasar bagi pertumbuhan kebudayaan bangsa Minahasa. Kehadiran buku antologi sastra berjudul Dunia X karya beberapa anggota Studio X ini sadar tidak sadar telah ikut memberikan landasan bagi eksistensi kesusastraan kita. Tanpa sastra pertumbuhan budaya kita akan mengalami kepincangan.Memang, sudah saatnya Muda Minahasa berekspresi”, tambahnya berapi-api. Selain ini, pembicara juga mengemukakan betapa pentingnya pembangunan basis kebudayaan serta penggalangan jaringan antar organisasi budaya yang telah ada dan secara lebih khusus mengenai isi buku dunia X ,ia mengemukakan bahwa,” kehadiran beberapa karya di dalam buku ini terutama cerita pendek dan drama telah menjadi pelopor bagi kehadiran sebuah genre yaitu cerita misteri sebab sepanjang beberapa dasawarsa sejarah kesusastraan di Sulawesi Utara hampir tidak ada karya cerita misteri yang dituliskan apalagi dibukukan.”.
Ivan Susilo ketua Teater Ungu Unima mengatakan bahwa kehadiran buku Dunia X ini benar-benar merupakan provokasi bagi mereka untuk berperan lebih aktif dalam aktifitas penciptaan terutama dalam penciptaan karya sastra.
Jenry Koraag dari Teater Kronis juga menegaskan bahwa kehadiran para penulis “Dunia X” ini adalah sebuah tamparan yang sangat keras bukan Cuma bagi dia pribadi dan kita semua yang hadir dalam kegiatan ini tapi terlebih bagi mereka kaum tua yang Cuma sibuk mendongengkan masa lalunya. “Bayangkan!”, katanya,”Mereka yang menulis Dunia X ini sekarang baru berumur antara 12-16 tahun !”.
Selain membicarakan tentang buku Dunia X dan maknanya bagi pembangunan kesusastraan di Minahasa dan Sulawesi Utara, diskusi ini juga menjadi media tukar pendapat mengenai problem-problem organisasional dari organisasi-organisasi budaya yang hadir.
Vandy Rompas dan Calvein Wuisan—Ketua dan sekretaris Sanggar Dodoku Wuwuk Minahasa Selatan mengemukakan hal yang kurang lebih sama mereka alami yakni adanya pihak-pihak tertentu yang dengan banyak cara berusaha menghalangi keterlibatan mereka dalam berkesenian dan berorganisasi.
Stevie Rampengan dari Komunitas SoeSube Koha juga mengatakan bahwa mereka pun harus berhadapan dengan tantangan-tantangan terutama dari masyarakat sekitar yang dengan apatis menganggap bahwa kegiatan mereka hanyalah kegiatan membuang waktu dan tidak bisa mendatangkan uang.
Melisa Pinaria dari Rumah Seni Klabat Maumbi mengatakan bahwa tantangan terbesar bagi mereka justru karena mereka itu perempuan. Karena bagi banyak orang kegiatan berkesenian kurang baik bagi perempuan. Bukankah pulang larut malam atau menginap di luar rumah tidak baik bagi perempuan ? Demikian mereka bilang.
Adapun Karina J.Eman dari Studio X mengatakan bahwa problem terbesar mereka salah satunya adalah ketika mereka dilarang menampilkan karya mereka di hadapan publik yang lebih luas. Ini dikatakannya berdasarkan kenyataan yang telah dialaminya bersama kawan-kawan di Studio X. Entah berapa kali mereka dilarang pentas terutama di gereja semata-mata karena alasan seperti lagu yang akan dipakai mengiringi tarian bukanlah lagu “Rohani”. Lagu “Rohani” kan harus halus dan lemah lembut kata mereka. Pada hal lagu yang kami pakai jelas-jelas diambil dari sebuah album lagu rohani yang lagi populer.
Bertolak dari persoalan-persoalan yang telah dikemukakan di atas, penulis menyimpulkan bahwa: Pertama, perlu adanya keterbukaan dalam masyarakat dalam memahami arti kehadiran dari organisasi-organisasi budaya yang dipelopori oleh kaum muda ini agar supaya benih-benih konservativisme yang telah bertumbuh selama berpuluh tahun ini tidak terus menghalangi kemajuan peradaban kita. Kedua, Harus terus ada keyakinan dan keberanian dalam diri setiap kreator untuk melintasi batas-batas yang ada dalam diri maupun di luar diri sebab hanya dengan dasar inilah kita bisa terus mencipta dan menghasilkan karya yang nyata. Ketiga,masalah pelarangan adalah tantangan yang harus dialami setiap kreator. Ini akan mendorong dia untuk terus maju dan tidak ada pilihan lain bagi kita untuk maju selain terus Belajar, Berkarya dan Berorganisasi. Baik atau buruk adalah soal penilaian. Dan penilaian hanya dapat diberikan bila sesuatu telah dibuat. Jadi bukankah mereka yang dinilai hanyalah mereka yang telah berbuat sesuatu ?!
Dari balik bilik Greenhaus di Welong Abadi, Touna’as.
Metoop oka ke e....

Pertama kali dipublikasikan
Di Jurnal Tou’naas, edisi 1 Oktober 2005

Catatan dari KARNAVAL SENI KEMERDEKAAN” EKSISNYA “KOMUNITAS SoeSUBE” KOHA

Oleh : Fredy Sreudeman Wowor
(Penyair, Peteater, Dosen Jurusan Sastra Indonesia fakultas Sastra UNSRAT)

Pada bagian akhir catatannya tentang “Launching sanggar Dodoku Wuwuk”, saudara Greenhill Weol, S.S. kembali lagi mengemukakan sebuah pertanyaan yang sangat berarti bagi proses Renaisance Kebudayaan di Minahasa maupun Sulawesi Utara sekarang ini. “Wuwuk sudah, mana dang tu Kawangkoan, Amurang, Tumpaan, Langowan, Tomohon, Aermadidi, Tonsea, Bitung, deng tu samua-samua ! Ada le ?”
Sebuah pertanyaan yang sagat berarti saya katakan, karena memang pembangunan kembali kebudayaan kita jelas meminta peran aktif dari semua pihak yang mau tidak mau harus berani berkepentingan untuk melawan proses dekadensi budaya yang terus menggerogoti kehidupan masyarakat kita di Minahasa maupun Sulawesi Utara secara keseluruhan.

Dan pertanyaan ini sekarang telah dijawab oleh sebuah komunitas bernama SoeSUBE yang berbasi di desa Koha. Komunitas yang antara lain dipelopori oleh Stevie Rampengan, Indry Suwu, Jenry Koraag (salah satu pentolan Teater Kronis Manado) dan pemuda-pemudi desa Koha ini menggelar sebuah event kebudayaan dengan nama “Karnaval Seni Kebudayaan”. Kegiatan ini dimulai dengan pembacaan puisi bahasa Manado yang melibatkan anak-anak berumur 9-15 tahun di balai pertemuan GMIM Koha. Acara berlanjut dengan kegiatan musik seperti menyanyi dan musik bambu serta festival disko tanah. Puncaknya mereka menggelar pementasan teater jalanan dan kegiatan performance lainnya pada tanggal 17 Agustus 2005.

Kegiatan ini melibatkan Pemuda GMIM Eben Haezer Koha, Mudika St. Dominiko Savio Koha, Pemuda GMIM Sion Koha, SD Inpres Koha, Pemuda GPdI Koha, SD GMIM Koha, SD Katholik Koha, Musik bambu Klarinet Harapan Sulut desa koha, Musik Bambu Klarinet Burung Nazar desa Koha, Musik Bambu badai Biru desa Koha, Teater KRONIS Manado, KONTRA Sulut, Teater Ungu Tondano, Teater Onethique Senduk, Forum Independen Peduli Sastra (FIP Sastra) Sulut, Rumah Seni Klabat Maumbi, sanggar Dodoku Wuwuk dan Studio X Sonder.
Menurut Stevie Rampengan yang pada kesempatan ini menjadi ketua panitia “Karnaval Seni Kemerdekaan” yang secara organisasional merupakan wakil ketua Komunitas SoeSUBE, kegiatan ini merupakan salah satu dari bagian program kerja komunitas. Kegiatan ini menurutnya telah mulai dipersiapkan sejak tiga bulan sebelumnya dan merupakan hasil dari diskusi-diskusi dan pertukaran pikiran yang telah dilaksanakan baik secara formal maupun informal sejak awal kemunculan komunitas ini di awal bulan Mei lalu. Saudara Jenry Koraag sebagai penasehat komunitas menyatakan bahwa kehadiran organisasi ini merupakan salah satu wujud dari kerja pembangunan basis budaya demi kebangkitan kembali kebudayaan Minahasa dan Sulawesi Utara secara keseluruhan.

“Apa yang telah dilakukan oelh saudara-saudara dari Komonitas SoeSUBE pada saat ini jelas makin menegaskan kenyataan bahwa sekaranglah waktunya bagi kita untuk memulai perlawanan terhadap dekadensi budaya yang kian menggerogoti kehidupan masyarakat dan mengadakan upaya Renaisance terhadap kebudayaan kita”. Demikian komentar saudara Alfrits Joseph Oroh selaku pembina sanggar Dodoku Wuwuk sekaligus pentolan Teater Ungu Tondano, Jeff “Toels” Tulandi pimpinan Teater Onethique Senduk dan tokoh Teater KRONIS Manado serta Greenhill Glanvon Weol selaku Koordinator KONTRA Sulut dan pembina Teater Bukit Hijau manado.
Hal penting yang ingin penulis catat pada kesempatan ini : Pertama, kehadiran komunitas SoeSUBE dengan event “Karnaval Seni Kebudayaan” ini sekali lagi kembali memancang tonggak bagi proses Renaisance kebudayaan Minahasa dan Sulawesi Utara secara keseluruhan. Kedua, Gerakan Membangun Lokalitas atau “Mawale Movement” yang bertujuan membangun peradaban melalui setiap wilayah diluar sentra ternyata masih terus mengalir baik itu bersifat diskusi terbatas maupun telah berwujud kegiatan pertunjukan dan pembangunan organisasi. Ketiga, peran para aktivis (pekerja) budaya untuk turun basis dan menggarap wilayah-wilayah yang selama ini dibatasi oleh wacana pusat dan pinggiran sangat dibutuhkan dan ini tentu saja membutuhkan para pekerja budaya yang berkualitas yang mau belajar, berkarya dan berorganisasi serta berani bergerak di setiap medan.

Akhirnya di penghujung tulisan ini penulis ingin melempar kembali pertanyaan : Sonder sudah ! Wuwuk sudah ! Koha sudah ! Mana tu Tondano ? Tonsea ? Kawangkoan ? Langowan ? Deng tu laeng-laeng ? Masi ada lei ?
Dari antara hembusan angin
Pete cingke di pertengahan bulan Agustus,
Touna’as. Metoop oka ke

Dimuat pada Harian Manado Post
19 Agustus 2005

PEMUDA MINAHASA DAN PERUBAHAN ZAMAN*

Salah satu masalah mendasar yang kerap kali menghantui kaum muda minahasa adalah masalah kepercayaan diri. Masalah kepercayaan diri ini, menurutku terkait sekali dengan politik pencitraan yang dilakukan oleh para penguasa dari setiap zaman di sepanjang lintasan sejarah orang Minahasa.
Pada zaman kompeni-hindia belanda misalnya, kita disebut sebagai orang-orang alifuru yang berarti orang-orang yang tidak beradab. Usaha pembentukan citra kita sebagai orang yang tidak beradab terutama dilakukan dengan mengeksploitasi leluri-leluri atau kisah-kisah masa lalu kita terutama yang terkait dengan soal asal usul yaitu kisah Lumimuut dan Toar. Kisah Lumimuut dan Toar sebagai persetubuhan antara ibu dan anak yang semula hanya merupakan salah satu versi dari sekian versi yang ada di dalam leluri-leluri para walian di seluruh wilayah Malesung kemudian ditetapkan oleh para ahli dari eropa sebagai versi yang dominan. Hal ini jelas tidak bisa dilepaskan dari politik kebudayaan kaum orientalis yang senantiasa menetapkan bahwa barat beradab dan timur tidak beradab, barat paling maju dan timur paling terbelakang. Politik kebudayaan yang senantiasa menempatkan segala hal pada posisi oposisi biner. Wacana yang memang menjadi landasan dari politik imperialisme.
Pada zaman awal kemerdekaan, orang minahasa disebut sebagai antek-antek atau kaki tangan penjajah. Orang-orang yang makan roti belanda. Citra ini dibangun dengan landasan pemikiran bahwa selama masa penjajahan Belanda, orang minahasa menikmati status lebih dibandingkan bangsa-bangsa lain di masa itu. Hal ini dibuktikan dengan melihat banyaknya orang minahasa yang terpelajar dan kemudian menjadi pegawai di kantor-kantor milik pemerintah atau menjadi tentara. Kedudukan-kedudukan ini menempatkan orang minahasa secara ekonomi lebih mampu.
Pada era pemerintahan orde lama dan orde baru, orang minahasa juga mendapat status baru sebagai kaum pengkhianat. Ini terkait dengan peristiwa piagam Permesta yang telah mengakibatkan peperangan dan korban baik manusia maupun materi. Politik pencitraan dimasa ini sangat terkait dengan usaha sistematis untuk membatasi peran orang minahasa di bidang sipil dan militer.
Pertanyaan kemudian yang bisa dimunculkan adalah mengapa harus ada usaha-usaha pembunuhan karakter terhadap orang minahasa dan bagaimana sebenarnya perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman ?
Menurutku, adanya usaha-usaha pembunuhan karakter ini justru sangat terkait dengan kehadiran kaum muda. Munculnya generasi baru di setiap zaman berarti munculnya motor penggerak perubahan dari sebuah zaman yang baru. Munculnya generasi baru sangat menentukan kemajuan dan masa depan Minahasa, untuk itulah maka generasi baru ini harus dibuat kehilangan jati dirinya. Kehilangan identitasnya. Kehilangan rasa percaya dirinya. Sebab generasi yang telah kehilangan rasa percaya dirinya akan senantiasa hidup dalam kebimbangan dan tidak bisa lagi menentukan sikap. Ia akan selalu ikut arus tidak perduli arus itu akan membawanya ke dalam jeram kehancuran.
Adapun perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman adalah sebagai berikut:
Pada zaman colonial, kaum muda minahasa banyak yang menjadi guru dan sangat berperan dalam proses pendidikan di seluruh wilayah nusantara. Dalam perkembangan kemudian, kaum intelektual yang dengan sadar mengambil kelebihan dari pengetahuan barat ini menjadi pelopor ideologis maupun praktis bagi perjuangan melawan penjajahan colonial belanda. Kita bisa menyebut antara lain, Ward Kalengkongan, ahli budaya yang kemudian menjadi sahabat dekat dan guru ideology dari Douwes Dekker Tokoh Nasionalis pendiri Indische Partij yang menuntut Hindia diperintah oleh Orang Hindia – Indie voor de Indier. F.D.J Pangemanann, pengarang dan pelopor pers, J.H. Pangemanan, pelopor pers dan pendiri Rukun Minahasa di Semarang. Sam Ratulangi, pelopor pers, futurolog. Ketua indische vereniging (Perhimpunan Indonesia). Arnold Mononutu, wakil Perhimpunan Indonesia di Prancis.
Pada zaman kemerdekaan,kita bisa menyebut antara lain J.F Malonda, sastrawan dan filsuf, penulis buku Membuka Tudung Filsafat Purba Minahasa. Giroth Wuntu, penulis roman Perang Tondano, H.M Taulu, penulis sejarah Minahasa dan Kisah pingkan Matindas (Bintang Minahasa), Jappy Tambayong (Remi Silado) Seniman serba bisa
Pelopor puisi Mbeling. Benni Matindas, penulis karya filsafat setebal seribuan halaman berjudul Negara Sebenarnya. Harry Kawilarang, wartawan dan penulis buku tentang terorisme internasional.
Pada penghujung era Orde Baru juga muncul gerakan budaya melalui kegiatan sastra,teater dan musik melalui Teater Kronis Manado, KONTRA, dan Teater Ungu. Gerakan budaya ini kemudian bermuara pada apa yang sekarang dikenal sebagai Mawale Movement : Gerakan Membangun Tempat Tinggal. Gerakan yang bertolak dari penulisan karya sastra berbahasa Melayu-Manado dan juga bahasa minahasa, eksperimentasi teater dan musikalisasi puisi serta pembangunan basis dan jaringan kebudayaan di seluruh Sulawesi Utara lebih khusus lagi Minahasa, Minahasa Selatan Minahasa Utara, Tomohon dan Minahasa Tenggara.
Apa yang bisa dijadikan permenungan dari kisah kaum muda Minahasa dari zaman dahulu sampai zaman sekarang adalah semangat untuk senantiasa menuntut pengetahuan yang lebih maju dan sikap kritis serta semangat kepeloporan untuk melakukan perubahan. Si Tou Timou Tumou Tou.


*Sastrawan, Pekerja Teater dan Dosen Tetap Fakultas Sastra UNSRAT

PEREMPUAN MINAHASA

Catatan dari Sebuah Kolokium
Oleh :
Fredy Sreudeman Wowor
“Perempuan Minahasa pada zaman dahulu sebelum kedatangan bangsa-bangsa kolonial eropa sebenarnya telah berada pada posisi ordinat ini dapat kita telusuri dari mitos-mitos yang mengungkapkan tentang asal usul orang Minahasa yakni mitos tentang Lumimuut dan Toar. Terlepas dari beragam varian yang menyertai perkembangan mitos tersebut namun ada satu hal yang pasti bahwa Lumimuut telah hadir lebih dahulu baru kemudian Toar. Hal ini menyiratkan bahwa Lumimuut (baca : Perempuan) pada zaman dahulu di minahasa pada dasarnya merupakan subjek yang memegang peranan sentral dalam kehidupan. Tapi sejak bangsa Kolonial Eropa mulai menancapkan kuku-kuku imperialismenya dengan dalih “Mengadabkan daerah-daerah tak beradab” , kedudukan perempuan minahasa mengalami distorsi yang berakibat terjadinya pensubordinasian posisi perempuan di bawah laki-laki. Perempuan Minahasa sekarang hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga yang kerjanya hanya menjadi pembantu suaminya (Baca : Laki-laki). Sampai pada masa Orde Baru Perempuan Minahasa dalam kenyataannya tetap tidak mengalami perkembangan yang mendasar karena sistem yang dianut oleh pemerintah pada waktu itu sebenarnya juga tidak lari jauh dari sistem penjajahan budaya yang dipakai oleh pemerintah kolonial : Mereka hanya menginginkan perempuan yang patuh dan tidak rewel entah itu dalam soal ekonomi maupun dalam persoalan ranjang. Walaupun demikian ada juga sih yang karena faktor-faktor tertentu bisa keluar dari kungkungan sistem pensubordinasian tersebut,tapi ini hanya sepersekian persen dari prosentasi perempuan Minahasa yang ada.”.
Demikianlah beberapa pokok pikiran yang dapat saya catat dari Kolokium atau seminar terbatas yang diprakarsai oleh jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unsrat yang dilaksanakan pada hari jumat lalu tanggal 15 April 2005 di ruang Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unsrat dengan pembicara tunggal DR. M. Liwoso Carle,Msc. Kolokium yang dimulai pada jam 10.00 WITA ini dipandu oleh moderator Ivan kaunang , M. Hum dan selesai pada jam 12.00 WITA.
Acara ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Sastra Unsrat Prof. DR. W.H.C.M. Lalamentik,MSc, Ketua jurusan Sastra Indonesia Dra. N. Tumengkol, M. Hum, Sekretaris Jurusan Sastra Jerman Dra. Troutje Rotty, M. Hum, ketua jurusan Sejarah Drs. R. Mawikere,M. Hum dan beberapa dosen serta mahasiswa dari jurusan-jurusan yang ada di Fakultas Sastra.
Selain acara seminar dilangsungkan pula acara peluncuran buku antologi puisi bahasa Manado berjudul 777 karya Jenry Koraag, Cristy Sondey dan Yudi Lumenta. Buku puisi ini diterbitkan oleh Forum Independen Peduli Sastra yakni sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam kegiatan pengkajian dan pendokumentasian karya sastra terutama karya-karya yang ada di Manado dan Sulawesi Utara secara keseluruhan.
Hal penting yang mungkin harus menjadi bahan permenungan kita sekarang ini ternyata perempuan Minahasa sampai pada saat ini masih terombang-ambing di bawah bayang-bayang sistem kolonialisme yang telah mensubordinasikan mereka di bawah telapak kaki laki-laki.
Ini jelas membutuhkan dialog-dialog lebih lanjut yang harus bermuara pada lahirnya gagasan-gagasan baru tentang posisi dan peran perempuan Minahasa . Dialog-dialog ini dapat berupa diskusi-diskusi lisan melalui seminar-seminar ataupun melalui kegiatan penerbitan-penerbitan buku yang berbicara tentang eksistensi perempuan Minahasa dan untuk itu sudah waktunya sekarang perguruan tinggi kita di Sulawesi Utara mengambil peran aktif jangan hanya menjadi pabrik sarjana saja. Metoop oka ke e…

MEMBONGKAR WACANA DI BALIK TERMINOLOGI MINAHASA

Karya: Fredy Sreudeman Wowor, SS

Berdasarkan asal katanya “Minahasa” berasal dari kata dasar “Asa” yang berarti satu. Kata “Asa” juga dilafalkan sebagai “Esa”. Melalui lafalan yang tajam dari “S” beserta “A” yang pendek maka kata ini berbunyi seperti “Essa”, “Assa”, seperti “S” telah digandakan. Dengan prefiks “Maha” maka terjadilah kata “Mahasa” berarti menjadi satu atau bersekutu juga berarti telah bersatu. Dengan adanya sisipan “In” terbentuklah kata “Minahasa” yang berarti telah menjadi atau dijadikan satu, persekutuan, persatuan (Grafland, 1987:12).
Kata “Minahasa” mulanya tidak digunakan sebagai sebutan untuk menamai suatu wilayah tapi dipakai untuk menyebut “Rapat Negeri”. Kata ini ditemukan pertama kali dalam surat yang ditulis oleh J.D.Schiersten kepada gubernur Maluku yang bertanggal 8 Oktober 1789 :

“Bij dezen neme ik de Vrijheid Uw WelEdele Achtb
ter g’eerde kennisse te brengen dat de Minhasa of
landraad op den 1 dezer de geschillen tusschen
bantik en Tattelie voigens hunne lands manier hebben
afgedaan staande de solemnisatie of betuiging van
vreede met eede eerstdaags tevolgen”
(Molsbergen, 1928:137)

Artinya:

“Bersama ini saya mengambil kebebasan untuk me-
laporkan dengan hormat kepada paduka tuan,bahwa
Minhasa atau musyawarah para ukung pada tanggal
1 bulan ini,telah menyelesaikan pertikaian antara
Bantik dan Tateli menurut adat istiadat mereka dan
Pengesahan atau pernyataan perdamaian itu akan di-
lakukan kemudian dengan sumpah.”
(Supit,1986:142)

Secara historis sebelum kata “Minahasa” ini dipakai untuk menandai wilayah, telah ada terminologi yang diakui dan diterima serta dipakai untuk menandai keberadaan wilayah yaitu “Malesung” yang artinya “berbentuk seperti lesung”.
Pertanyaannya sekarang mengapa “Minahasa” akhirnya diterima untuk menunjukan keberadaan suatu wilayah yang sebelumnya oleh penduduk pribumi telah dinamai “Malesung” ?
Jawabannya dapat kita telusuri dalam logika Kolonialisme dan Imperialisme yang melandasi cara pandang Kompeni-Belanda yang menganggap Timur (Baca:Malesung) sebagai “Daerah Tak Beradab” yang “Mesti ditaklukan” dan “Dikuasai”. Ini nampak pula dalam usaha penamaan terhadap penduduk pribumi sebagai “Orang Alifuru” atau “Orang Tak Beradab”.
Hal ini jelas menyuratkan kenyataan akan harus adanya “Superioritas” atas “Daerah-daerah tak beradab” itu sehingga dapat “Melegalisasi” setiap proses penaklukan dan eksploitasi yang mereka lakukan.
Alasan lainnya dapat kita lihat dari kenyataan bahwa sejak Simon Cos pelaut Belanda dan pasukannya mendarat di muara sungai Monangolabo (Sungai Tondano) pada tahun 1655 dan mendirikan benteng Nederlandsche Vasticoheit yang kemudian menjadi Benteng Amsterdam Manado, sampai pada Kontrak Persekutuan dan Kerjasama tanggal 10 Januari 1679 pihak Kompeni-Belanda ternyata belum bisa mengadakan pengerukan secara maksimal terhadap sumber daya alam yang ada di tanah Lumimuut-Toar karena adanya perlawanan terhadap kehendak dan kemauan mereka yang dilakukan oleh beberapa walak yang menolak menjual berasnya kepada Kompeni-Belanda, akibatnya adalah terjadinya “Perang Tondano” tahap pertama tahun 1660-1661.
Dari keinginan untuk mendapat untung besar ternyata Kompeni-Belanda malah mengalami kerugian akibat banyaknya biaya yang harus dikeluarkan selama “Perang Tondano” tahun 1660-1661 tersebut.
Sebab-sebab perang tersebut selain secara mendasar ditentukan oleh adanya konflik kepentingan baik secara ekonomi dan politik juga ditentukan oleh kenyataan bahwa walaupun pihak Kompeni-Belanda telah berhasil mengadakan hubungan dengan beberapa pemimpin walak di tanah Lumimuut-Toar pada waktu itu, tapi ternyata hubungan persahabatan ini tidak berarti bahwa mereka telah dapat mengakses apalagi menguasai seluruh wilayah tanah Lumimuut-Toar yang berada dalam kekuasaan walak-walak lain, sebaliknya mereka malah mengalami perlawanan yang sangat sengit.
Berdasarkan latar belakang kondisi objektif seperti inilah terlahir upaya untuk mendekonstruksi nilai-nilai yang melandasi pola hidup yang membentuk identitas orang-orang keturunan Lumimuut-Toar dan kemudian setelah didekonstruksi nilai-nilai tersebut lalu dikonstruksikan kembali berdasarkan logika Kolonialisme dan Imperialisme untuk mendukung kepentingan Kompeni-Belanda.
Pada tahap ini “Pengkonstruksian Kembali” identitas wilayah dari “Malesung” menjadi “Minahasa” jadi penting artinya karena sebagai “Sebuah wilayah yang telah disatukan” (Oleh Kompeni-Belanda), maka logikanya “Malesung” telah menjadi “Wilayah Jajahan” Kompeni-Belanda. Dan sebagai “Sebuah wilayah yang telah disatukan oleh Kompeni-Belanda”, “Malesung” secara legal formal dapat dieksploitasi untuk kepentingan Kompeni-Belanda.
Bahkan sampai pada zaman ini pun sadar atau tidak kita masih berada dalam bayangan Logika Kolonialisme dan Imperialisme ini sebab sebagian besar informasi yang menyangkut identitas kebangsaan kita orang Malesung berada dalam penguasaan Pemerintah Belanda dan Pemerintah R.I. yang berpusat di Jakarta.

½ DARI 1

KARYA : FREDY SREUDEMAN WOWOR


Panggung lengang. Di tenga ruangan badiri dua orang yang berlaku sbagai PERAWAT I dan II. Dorang badiri rupa patong kong babale balakang pa panonton.

PASIEN I
(Bajalang ka tenga ruangan. Tangannya menggenggam brapa buah balon warna warni. Sambil meremas balon yang mengeluarkan bunyi-bunyian, dia manyanyi)
Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Merah,kuning,kelabu,
Merah muda dan hijau



PASIEN II
(Datang kage-kage dan kemudian dia memecahkan balon yang ada di tangan PASIEN I. Setelah itu, sambil mengambil posisi yang bersebrangan dengan PASIEN I, Ia mencibir dan mulai mengejek)
Manangis ! Ayo, nangis !!
Nangis !
Nangis !



PASIEN I
(Mulai mewek, tapi tiba-tiba ia nda jadi manangis)


PASIEN II
(Tidak bisa menerima kenyataan. Dia lantas naik darah)
Kiapa ngana nda jadi nangis ?!
Ayo, jawab !
Kiapa ngana nda jadi manangis tadi ?


PASIEN I
(Tersipu kebingungan)
Kiapa qta musti manangis ?


PASIEN II
(mengamuk dalam kepedihan)
Ngana musti manangis ! Ngana musti manangis ! Ngana musti manangis !
Musti manangis ! Musti manangis !
Manangis !


PERAWAT I dan PERAWAT II
(Terlompat kaget dari keterpakuannya dan dengan terburu mereka berusaha menahan amukan PASIEN II)


PASIEN III dan PASIEN IV
(Terburu datang begitu mendengar ada keributan. Masing-masing muncul dari arah yang berlawanan)


PASIEN I
(Menatap penuh iba)


PASIEN II
(Kian Memedihkan)
Qta nimau dikasihani !
Qta nimau dikasihani !
Qta nimau dikasihani !


PERAWAT I dan PERAWAT II
(Menyeret PASIEN II dengan sekuat tenaga keluar menjauhi PASIEN I)


PASIEN I
(Tidak sanggup menerima kenyataan ini. Dia kejang-kejang kemudian terkapar tiba-tiba ke atas lantai)


PASIEN III dan PASIEN IV
(berlari sambil berteriak-teriak tapi pas berpapasan, mereka ketakutan sendiri. Keduanya berbalik lantas masing-masing terburu ke arah yang saling berlawanan)
Gila
Gila
Gila
Gila


PASIEN I
(Tersadar dari ketidaksadarannya)
LaGi


PASIEN III dan PASIEN IV
(Melintas kembali dari arah masing-masing yang saling berlawanan. Mulut mereka menggumam dengan terbata-bata. Saling berbalasan. Dan kemudian terus menghilang)


PASIEN III
Gila


PASIEN IV
Gila


PASIEN III
Gila


PASIEN IV
Gila


PASIEN III
Gila


PASIEN IV
Gila


PERAWAT I dan PERAWAT II
(Muncul kembali terus membawa PASIEN I pergi, pause)


PASIEN V
(Melintas masuk, berhenti di tengah ruangan dan sambil berpaling ke penonton ia menjengek)
HeHe


PASIEN VI
(Muncul tiba-tiba dengan sebuah senjata mainan di tangannya. Ia menodong Pasien V)
Jang bagra


PASIEN V
(Kecut mengangkat tangannya)


PASIEN VI
(Tersenyum ganjil)
Roko dang


PERAWAT I & PERAWAT II
(Muncul dan membawa pergi Pasien V dan Pasien VI)
Waktu barmaeng so abis
Manjo !!!




14 September 2005

kosmik ballad

Lalu seperti ketika
Selembar daun mengering

KEPADA PARA PENGGANTANG ASAB

HANYA

HAIKU TENGA MALAM

Dalam hening malam
Semilir angin mendesis
Sepi melecut kebisuan

SASAHARA

(Sebuah sajak buat Vick R. Bawole)


KAU – AKU
AKU – KAU

KREDO PENYAIR

Buat : J.K.


Puisi adalah kata hati
Tapi tidak setiap kata hati adalah puisi
Sebuah kata puisi didulang dahulu
Dari endapan pengalaman di dasar hati

RINTIK HUJAN DI TINGKAP RUMAHKU

Rintik hujan di tingkap rumahku
Mengisahkan kenangan sejenak kelebatan yang lalu
Aku sedang menapak jalan pencerahan
Seekor anjing datang menyalak minta makan

BUGENVIL BALLAD

Bugenvil ungu mekar di pinggir jalan
Bunganya membusuk jatuh berhari kemudian
Seorang lelaki menyapu sisanya ke bawah pelataran

SEPUCUK DEDAUNAN DI PAGI ITU

Sepucuk dedaunan di pagi itu
Jatuh berguguran di sela kibasan
Kelepak sepasang burung gereja
Sebutir embun terserak ditelan bumi

HUJAN DERAS MALAM TADI

Hujan deras malam tadi
Membikin rindang hujauan pepohonan
Dan aku lihat sisanya
Mengaliri kelokan di sebatang ilalang

SUARA ITU DATANG LAGI

Hallo,
Masih kenal suara ini ?
Akh…

KACANG HAI DARI MASA KANAK

(Sebait Puisi Penawar Kewarasan)


HAIKU
HAIMU
HAIKITA
HAIHAI

CERITA MINI

Malam itu dikulumnya aku
Dan ku muntahkan seteguk kenikmatan

EKSTASE

Aku bercinta dengan diriku

SAJAK PENGHUJUNG TAHUN

Sekian hari lagi dan tahun berganti
Kita setapak lagi menuju batas usia

VIA DOLOROSA

Kristus tersalib di Golgota
Kerajaan Allah ada dalam diriku

SPIRIT PEMBERONTAK

Bunuh dirimu
Kematian adalah awal kehidupan

INSOMNIAC

Aku tak bisa tidur
Sebutir embun melintas dalam kebekuan

APOSTLE

Bakarlah gereja
Kau akan ketemu aku

CAP TIKUS BLUES LAI, MAMA

Cap tikus satu botol dalang genggaman
Adoh, saorang lelaki dalang demam kamiskinan
Coba menyumpal kagundahan
“ Cuma ambe kayu bakar lei
Dorang suruh bayar denda !
Mo jadi apa qta pe turunan nanti di sini
Ta pe bini mo bajual diri ka papua?”
Lelaki itu so nyanda dapa tanggong de pe prasaan
Tenga malang buta dia ambe tamako
Lalu ditetaklah leher-leher mungil itu:
Saorang parampuang parobaya
Deng dua orang anak kacil
Dua orang anak kacili
Dalang balutan kous kadodoran
De pe umur baru bajalang lima taong
“saumur hidop dalang panjara
Apa susahnya?
Paling nda ada sapiring nasi
Sagalas aer deng saalas tikar
Ta pe bini deng ta pe kacili
Skarang bahgia di dalang sorga”

21 AG* MAKAARUYEN

Brapa pulu taong lalu
Jalang di muka ruma ini
Blum aspal beton rupa skarang
Cuma tana liling campur batu deng aspal sadiki
Aspal halua tong bilang di Sonder

Brapa pulu taong lalu
Di masa Demokrasi Terpimpin
Pembangunan jalang ka padalaman
Permesta kurang da bantu beking
Mar de pe laste bom jatung di mana-mana

Brapa pulu taong lalu
Pada jaman pamerentahan militeristik Orde Baru
Pemerataan pembangunan sama deng kampanya pamarenta
Pe susah skali mo kaluar Jawa
Apa lagi mo maso Sonder di padalaman Minahasa

Brapa pulu taong lalu
Sejak Minahasa jadi bagean Repoblik Indonesia
Sampe skarang tentara so barkuasa ulang
Jalang-jalang di padalaman
Baru dong mo beking kalu so klar pemilu
Itu kalu lei torang mo pili pa dorang
Pembangunan di padalaman
Memang Cuma jadi komoditi pamarenta pusat

*After Gates

BLUES CAPATU BOTS

Capatu bots merek cheetah
Qta pake tiap hari
Depe warna skarang kusam kacoklatan

Capatu bots merek cheetah
Waktu mandi di kuala
Bole jadi palopalo for basirang

Capatu bots merek cheetah
Waktu bagate deng tamangtamang
Bole jadi asbak for abu roko

Capatu bots merek cheetah
Waktu pentas teater di jalang
Bole jadi properti for seting panggung

Capatu bots merek cheetah
Qta dapa dari Elsye
Lisa pe mama yang dulu karja di parusahaan asing

COELACANTH LATIMERIA MENADOENSIS BLUES

Karya : Fredy Sreudeman Wowor

Qita saksikan Coelacanth
Tarjarat jaring liat komodifikasi
Dalang jepretan kamera digital
Di lembar depan koran pagi
Yang ta baca deri sei pa Nanda
Coelacanth,
Ikang purba lebe tua deri dinosaurus—
Reptil telengas yang tla menghantui qita-qita
Deri layar lebar Twenty One
Hingga layar kaca di huk kamar kos
Saharga lima pulu ribu pera
Coelacanth,
Ikang deri 70 sampe 300 juta taong yang lalu
Skarang manggalepar di ujung moncong
Para birokrat yang so bagabu-gabu
Mobeking Coelacanth jadi maskot
Sumungkul para tamu World Ocean Conference
Coelacanth,
Raja Lao orang-orang pante ja bilang
Tapanggang bara api ambisi politik
Jadi ikang WOKU di atas meja
Waktu rapat di gedung DPRD
Coelacanth tak pernah mati, kata Pitres
Coelacanth tak pernah mati bagimana, ta mo tanya
Kalu sampe ini hari,
Ada batruk-truk batu gunung
Ada batruk-truk paser deng karikil
Ada batruk-truk tana domato
Dorang pake tambung tu pante manado
Mo jadi fondasi,kata
For beking pusat-pusat parblanjaan
Akh !
Coelacanth,
Ngoni tau?
kini so kailangan tampa tinggal !
Seperti terumbu karang di taman laut bunaken

MENGGLOBALKAN LOKALITAS*

Oleh : Fredy M.S.B. Wowor**
I

9 November 1989.
Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur yang Komunistik dan Jerman Barat yang Kapitalistik berhasil diruntuhkan. Peristiwa ini menjadi titik tolak paling mendasar dari munculnya gelombang perubahan yang bukan cuma mengubah wajah Eropa tetapi juga dunia. Perang Dingin yang telah menghantui dunia dengan ancaman perang nuklir selama puluhan tahun akhirnya berhasil dimenangkan oleh kaum kapitalis.
Kemenangan ini melandasi ekspansi besar-besaran kapital dan komoditi ke Negara-negara dan wilayah-wilayah yang dahulu berada di dalam wilayah komunis dan dunia ketiga. Ekspansi inilah yang sekarang kita kenal dengan dalih “Liberalisasi Pasar” atau dalam bahasa kerennya “Neoliberalisme”.
11 September 2001, Menara kembar World Trade Center (WTC) hancur ditabrak oleh pesawat yang dikendalikan oleh “Para Teroris”. Peristiwa ini memicu tindakan kekerasan berwujud perang besar-besaran terhadap kaum teroris dan Negara-negara tertentu yang dianggap menjadi pelindung organisasi-organisasi teroris tersebut. Hasilnya : Afganistan dan Irak hancur. Islam jadi tertuduh.
Munculnya “Islam” sebagai salah satu peradaban yang menjadi lawan Amerika yang Kristen dan bangkitnya Cina – Sang Naga yang Konfusianis– dari tidur panjangnya seolah-olah menjadi pembenar dari Tesis Samuel P. Huntington yang menyatakan bahwa pasca perang dingin, dunia akan terbelah akibat benturan antar peradaban (The Clash of Civilizations)
Di berbagai wilayah Repoblik Indonesia terjadi sengketa antar bangsa dan agama yang telah mengakibatkan kehancuran infrakstruktur yang tidak dapat lagi dihitung nilainya dan pada sisi lain telah mengakibatkan kematian dan degenerasi.

II

Sulawesi Utara berada pada posisi yang sangat strategis karena berada di tepian Pasifik dan langsung berbatasan dengan Philipina yang menjadi salah satu pangkalan militer Amerika di Asia Tenggara. Selain itu jarak antara Sulawesi Utara dengan jepang dan cina tidak terlalu jauh. Kenyataan ini bermakna bahwa Sulawesi Utara langsung berada di pusat pertarungan kepentingan politik-ekonomi dan kebudayaan dunia.
Bila kita melihat kembali ke belakang maka kondisi kita pada hari ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi kurang lebih 500 tahun yang lalu.
Pada sekitar tahun 1500-an, Sulawesi Utara juga telah menjadi pusat pertarungan politik global yaitu Spanyol yang berpangkalan di Philipina, Portugis yang berpangkalan di ternate dan malaka, serta VOC yang berpangkalan di Batavia dan setelah berhasil mengalakan Kerajaan Islam Gowa-Tallo berpangkalan di Makasar.Inggris juga pada akhirnya terbukti ikut memperebutkan Sulawesi Utara seiring terjadinya perubahan politik di eropa, ini bisa dibuktikan dengan keterlibatan mereka yang intens melawan VOC dan Pemerintah Hindia Belanda di Perang Tondano dengan menjadi pemasok senjata bagi para gerilyawan Minahasa.
Berada di titik pusat pertarungan kekuatan global ini ternyata tidak menjadikan Sulawesi Utara lenyap dari pusaran sejarah karena dilindas berbagai kepentingan, sebaliknya sejarah membuktikan bahwa bangsa Asia pertama yang berhasil menaklukan salah satu kekuatan global yang sangat dominan pada waktu itu yaitu Spanyol adalah salah satu bangsa yang ada di Sulawesi Utara. Bangsa itu adalah bangsa Minahasa. Peristiwa ini dalam sejarah Minahasa dikenal dengan Perang Kali, terjadi sekitar pertengahan tahun 1600-an.
Terlepas dari adanya konfrontasi terhadap kekuataan politik global ini, bangsa-bangsa di Sulawesi Utara juga terbukti melakukan proses transformasi budaya dengan mengambil unsur-unsur yang berarti dari bangsa-bangsa seperti Spanyol, Portugis,Belanda,Inggris dan bangsa-bangsa eropa lainnya.Unsur-unsur tersebut antara lain mencakup religi,organisasi kemasyarakatan,pengetahuan,bahasa,kesenian,mata pencarian hidup dan teknologi. Unsur-unsur yang sekarang kita kenal sebagai unsur-unsur kebudayaan yang universal. Proses pengambilan unsure-unsur kebudayaan universal ini terbukti bisa menjadikan bangsa-bangsa yangada di Sulawesi Utara sanggup bertahan dari hantaman gelombang zaman. Proses transformasi budaya ini bisa dilakukan karena kondisi masyarakat Sulawesi Utara yang bersifat terbuka dan kritis.
Tentu saja proses ini tidak senantiasa berjalan lancer, sebab di era orde baru terbukti juga bahwa Sulawesi Utara ternyata mengalami kemunduran. Kemunduran ini terutama nampak dalam kebudayaan dengan menurunnya daya cipta manusia. Pembangunan orde baru yang lebih memusatkan pada pembangunan ekonomi ternyata mengakibatkan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam. Dan dalam bidang politik, proses sentralisasi politik justru mengakibatkan terjadinya degenerasi.

III

Tapi situasi ini ternyata juga tidak bertahan selamanya, beberapa tahun sebelum kekuasaan orde baru berakhir, Sulawesi utara mengalami perkembangan yang begitu berarti bukan saja pada pembangunan infrastruktur dan ekonomi tapi terlebih dalam bidang kebudayaan.
Gerakan kontra kultura yang muncul di kampus pada sekitar akhir tahun 1994, telah mengajarkan bahwa kita harus bisa memilih untuk melakukan perlawanan dari pada terus berdiam diri-tertindas. Sejarah kemudian membuktikan bahwa pilihan ini tidak keliru. Perubahan itu ternyata mungkin.
Agama bukan cuma soal sorga tapi juga kepedulian di dunia, kekuasaan tidak selalu terpusat bisa terbagi, kapital tidak selamanya berupa tanah atau barang tetapi juga bisa berwujud manusia dengan segala kemampuan kreatifnya. Bahasa bisa verbal bisa juga bahasa biner. Teknologi akan membantu kita menembus segala pembatasan.
Tahun 1995 di Sulawesi Utara menurutku adalah titik berangkat mulai terjadinya pergeseran secara khusus dalam seni dan kebudayaan. Dalam bidang Teater bisa dilihat bagaimana panggung telah bergeser dari dalam gedung pertunjukan ke jalanan. Dalam karya sastra, juga telah terjadi pergeseran sikap dan keberpihakan dalam tema-tema tertentu. Sebuah karya sastra tidak lagi ditulis untuk malanggengknan status quo tapi untuk perubahan. Dalam organisasi telah muncul basis-basis kebudayaan yang baru yang kemudian terbukti menghasilkan kader-kader seniman yang konsisten untuk menjalani proses kreatif dan mencapai hasil kreasi yang bernilai. Munculnya Fakultas Sastra Unsrat sebagai sebuah barometer kebudayaan alternatif misalnya. Dari Fakultas Sastra Unsrat muncul teater kronis, kontra, teater club, bengkel musik dan band-band pelopor lainnya.
Dalam rentang tahun 1995-Sekarang di sulut, telah muncul gerakan-gerakan alternative yang telah bermuara menjadi gerakan budaya yang sekarang dikenal dengan nama MAWALE MOVEMENT : GERAKAN MEMBANGUN TAMPA TINGGAL .
Gerakan budaya ini mencakup gerakan teater performance , gerakan musikalisasi puisi yang memadukan sastra dan musik rock, blues dan regge, gerakan sastra berbahasa melayu manado- sastra tepian pasifik, gerakan penerbitan buku dan media alternative, gerakan pembangunan basis kebudayaan diseluruh wilayah Sulawesi Utara dan gorontalo,dan gerakan internetisasi sastra dengan pembuatan blog sastra di internet serta pembuatan windows minahasa.
Apa yang telah dilakukan sejak tahun 1995 ini didasarkan terutama pada pilihan strategi menunggangi gelombang globalisasi. Dengan langsung berhadapan dengan kekuatan-kekuatan politik-ekonomi dan budaya dunia, Sulawesi Utara mau tidak mau harus meningkatkan diri melampaui batas-batas yang selama ini dipilihkan padanya oleh penguasa. Menjadikan potensi local kita mengglobal. Mengglobalkan lokalitas.


* Makalah disampaikan pada Seminar Lingkar Belajar Aksi (LIBERASI) 1
Diselenggarakan oleh Rumah Belajar Lipu’ Kobayagan pada senin, 28 juli 2008 di
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Tuminting Manado

**Sastrawan dan Peteater. Dosen di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas
Sastra Unsrat

ANALISIS ALUR ROMAN AROK DEDES KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Oleh : Fredy M. S. B. Wowor, S.S*


PENGERTIAN ALUR

Menurut Kamus Istilah Sastra yang disusun oleh Panuti sudjiman, alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalani dengan seksama yang menggerakkan cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan selesaian (Sudjiman, 1986:43).
Dalam bukunya yang berjudul,” Pengantar Apresiasi Karya Sastra”, Aminuddin mengatakan pengertian alur pada umumnya adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin, 1987:83).
Tahapan-tahapan peristiwa dalam alur ini, pertama, tahap situation atau tahap perkenalan, kedua, tahap generating circumstance atau tahap pemunculan konflik, ketiga, tahap rising action atau tahap peningkatan konflik, keempat, tahap klimax atau tahap puncak dari konflik, kelima, tahap denoument atau tahap penyelesaian.
Adapun Boen Oemaryati mengatakan bahwa alur adalah struktur penyusunan kejadian-kejadian dalam cerita, tetapi disusun secara logis (Ali, 1967 :120).
Menurut M. Saleh Saad, alur adalah sambung sinambung peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakanapa yang terjadi tetapi yang lebih penting ialah menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Dengan sambung sinambungnya peristiwa ini terjadilah sebua cerita. Antara awal dan akhir cerita inilah terlaksana alur itu.(Mido,1994:41-42).
Berdasarkan pengertian-pengertian alur yang telah dikemukakan ini dapat disimpulkan bahwa alur adalah rangkaian kejadian yang disusun secara logis dalam tahap-tahap tertentu serta didasarkan pada hubungan kausalitas atau sebab akibat.

ANALISIS ALUR ROMAN AROK DEDES

Pada hakekatnya roman Arok-Dedes karya Pramoedya Ananta Toer ini mengisahkan perjalanan hidup Arok dari kecil sampai dewasa yakni sejak dia masih bayi dan beranjak dewasa sebagai penggembala kerbau di desa kemudian menjadi pemimpin pemberontak yang telah merepotkan pemerintah hinggaa menjadi prajurit di Tumapel. Di tempat inilah dia berkenalan dengan Dedes dan menjadi Akuwu setelah berhasil menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung.
Roman ini menceritakan pula perjalanan hidup Dedes, Putr Mpu Parwa yang diculik oleh Tunggul Ametung dan dipaksa menjadi Paramesywari di Tumapel serta peranannya dalam meruntuhkan kekuasaan Tunggul Ametung di Tumapel.
Berdasarkan riwayat hidup Arok dan Dedes inilah pengarang menjalinkan proses perubahan social yang mendasar dan radikal yang terjadi di Tumapel.
Cerita ini dimulai dari tahap pemunculan konflik atau tahap generating circumstance yakni pada saat dedes diculik dan akan diangkat menjadi Paramesywari di Tumapel. Ini dapat dilihat dalam kutipan berikut :

“Ia takkan dapat lupakan peristiwa itu pertama kali ia sadar dari pingsan. Tubuhnya dibopong diturunkan dari kuda, dibawa masuk ke ruangan besar ini juga. Ia digeletakkan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul Ametung, berdiri mengawasinya,. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan menangis. Orag itu tak juga pergi. Dan ia tak diperkenankan meninggalkan bilik besar ini. Gedeh Mirah menyediakan untuknya air, tempat membuang kotoran dan makanan. Matari belum terbit. Ampu-lampu suram menerangi bilik besar itu. Begitu matari muncul masuk ke dalam seorang tua mengenakan tanda-tanda brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. Tetapi tunggul Ametung membopongnya lagi, mendudukannya di atas sebuah bangku yang diberi bertilam permadani. Ia tutup mukanya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di sampingnya. Orang dengan tanda-tanda brahmana itu telah menikahkannya. Hana edeh Mirah bertindak sebagai saksi. Kemudian Tunggul Ametung meninggalkan bilik bersama brahmana itu. Sejak itu ia tidak diperkenankan keluar dari bilik besar ini.
Semua berangung secara rahasia. Empat puluh hari telah lewat. Sekarang ini Gedeh Mirah meriasnya. Ia telah sampai pada riasan terakhir.”
(Toer, 1999:4)

Acara pengangkatan Dedes sebagai Paramesywari di Tumapel dilakukan setelah upacara penutupan wadad pengantin atau upacara brahmacarya. Pengangkatan ini dilakukan oleh Tunggul Ametung di depan rakyatnya Ini dapat dilihat dalam kutipa berikut :

“upacara penutupan brahmacarya telah selesai. Tunggul Ametung berdiri berseru pada rakyatnya :
“Demi Hyang Wisnu, pada hari penutupan brahmacarya ini, kami umumkanpada semua yang mendengar, pengantin kami ini, Dedes, kami angkat jadi Paramesywari, untuk menurunkan anak yang kelak menggantikan kami.”
Belakangka mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Terdengar sorak bersahut-sahutan.” (Toer, 1999:9-10)

Cerita ini berlanjut dengan bertemunya Tunggul Ametung dengan pemimpin pemberontak bernama Arok. Ini dapat dilihat dalam kutipan berikut :

“Tepat di bawah lereng terjal Tunggul Ametung berhenti. Ia tertawa dalam hati diperingatkan untuk balik. Dari pengalaman ia tahu, pohon di belokan jalan sana itu jatuh arena ditebang. Perusuh sedang pesta pora di desa selanjutnya. Beberapa kali dahuli ia sendiri telah merobohi jalanan dengan pohon untuk menghalangi pengejaran pasukan kuda Kediri.
Suatu gerak mencurigakan membikin ia memgangi hulu senjatanya. Ia angkat pandangnya ke tebing di samping kanannya. Di atas sebuah batu berdiri seorang berkumis sekepal. Berdestar hitam dan berpenutup dada hitam pula. Pada tanganya ia membawa trisula. Ia tahu benar itu bukan trisula untuk berkelahi, tapi untuk upacara keagamaan orang-orang Syiwa. Cawatnya berwara coklat dan Nampak sudah tua. Terompah tapas dikenakan pada kakinya.” (Toer, 1999 : 35)

Arok kembali ke padepokan Dang Hyang Lohgawe setelah Tunggul Ametung dan pasukannya pergi meninggalkannya. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Matari sudah hampir tenggelam ketika ia sampai di kebun buah Dang Hyang Lohgawe. Dihindarinya mahagurunya dan berjalan menepis mencari tempat air. Adalah tidak patut ditemukan dalam keadaan begini kotor. Setelah membersihkan diri ia berganti pakaian dan masuk ke pemondokan teman-temannya seperguruan.
Tujuh orang itu sedang sibuk menghadapi lontar menghafal paramasastra Sansekerta, ketahuan dari dengung ucapamn mereka perlahan.
“Tiada bapa menanyakan aku?” ia bertanya.
Semua mengangkat kepala. Dang Hyang Lohgawe tidak menanyakan. Mereka menyingkirkan lontarnya dan dengan pandang bertanya menatapnya.
“Dari mana saja engkau ? Mukamu sudah hitam biru begitu. Sudah lama kau tak belajar. Kau bisa di usir,” seseorang memperingatkan, “Biarpun ingatanmu mendapatkan pancaran dari sang Hyang Ganesya.”
Arok tak pernah belajar paramasastra Sansekerta. Untuknya setiap mata pelajaran terlalu mudah untuk disimpannya dalamingatannya.” (Toer, 46-47).

Adapun tahapan situation atu tahap pengenalan cerita dilukiskan dengan menggunakan sorot balik. Pada tahap pengenalan ini, pengarang terutama menceritakan masa lalu dari Arok dan Dang Hyang Lohgawe. Pada tahap ini pengarang juga melukiskan situasi di Tumapel pada masa pemerintahan Tunggul Ametung. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Peristiwa ini mendesak berita-berita hebat dari hamper dua bulan lalu yang menyebabkan penjagaan istana Tumapel dan selurh kotaraja diperketat. Berita itu adalah tentang Borang, seorang pemuda berprawakan kukuh, berani atau nekad, tanpa kegentaran. Ia muncul di tanah lapangan Bantar, setengah hari perjalanan di seelah barat Kutaraja. Dan orang dengan diam-diam mengagungkan dan membenarkan Borang, bahkan menganggapnya sebagai titisan Hyang Wisynu sendiri.
Bantar adalah sebuah dukuh di kaki gunung Arjuna, di pinggir jalan negeri yang menghubungkan Tumapel dengan Kediri. Pembangun dukuh adalah Ki Bantar. Beberapa tahun yang lalu ladang Bantar tidak tanah lapang seperti sekarang, karena Ki Bantar setiap musim kemarau menanaminya degan bawang merah. Seorang narapraja dalam perjalanan ke Kediri telah mengusirnya bersama semua keluarganya. Semua harta milik dan ladangnya dirampas oleh desa.
Di lapangan Bantar ini dua bulan yang lalu Borang muncul dalam terang cahaya bulan. Anak buahnya telah mengerahkan seluruh penduduk untuk berkumpul dan melingkarinya.
“Akulah Borang,” a memperkenalkan diri. “Mengapa kalian diam saja waktu Ki Bantar dan keluarganya diusir dari sini ? katakana padaku sekarang : Siapa yang bersuka hati karena kepergiannya?”
Penduduk yang menjadi waspada tidak menjawab. Siapa Borang, orang tak tahu. Selama ini banyak perlawanan terhadap Tunggul Ametung dan hamper semua telah dipatahkan. Boleh jadi Borang punggawa Tumapel, boleh jadi juga sebaliknya.” (Toer, 1999 : 16 – 17).

Berdasarkan kutipan ini dapat diketahui bahwa pemerintahan Tunggul Ametung tidak membawa kemakmuran bagi rakyatnya, tetapi justru sebaliknya membawa penderitaan. Salah satu penyebabnya adalah tindakan para aparat pemerintahnya yang sewenang-wenang merampas tanah milik rakyat. Tindakan semena-mena seperti ini telah menimbulkan keresahan dan perlawanan rakyat di Tumapel.
Adapun masa lalu darikehidupan Arok dapat dilihat dalam kutipan berikut ini :

“Isi catatan itu lebih kurang sebagai berikut :
Pada suatu sore yang suram dengan gerimis tipis datang ke perguruan Tantripala dua orang bocah, Temu danTanca. Guru itu bertanya :
“Siapa yang menyuruh kalian belajar kemari ?”
“Bapa Bango Samparan.”
Siapa yang tidak mengenal nama Bango Samparan ? Seorang penjudi yang lebh sering ditemukan di tempat perjudian dai pada di rumah ? Seorang penjudi yang mengirimkan bocah-bocah untuk belajar !” (Toer, 54 – 55).

Berdasarkan kutipan ini dapat diketahui bahwa Arok dikirim oleh bango Samparan yang merupakan orang tua pungutnya untuk belajar pada perguruan Tantripala.
Adapun kehidupan Arok sebelum diangkat anak oleh Bango Samparan dapat dilihat pada kutipan berikut ini :

“Kini untuk pertama kali ia hendakmenilai masalalunya sebelum jadianak pungut Ki Bango Samparan….
Ki Lembung ! Dialah yang pertama-tama di dunia ini yang ia kenal sebagai pengasihnya. Menurut ceritanya, dialah juga yang menemukan dirinya sebagai bayi, dibuang oleh orang tuanya di gerbang sebuah pura desa….
Bayi itu diserahkan pada istrinya….
Arok tidak pernah tidak merasa berterima kasih bila mengenangkan suami istri petani di Randu Alas itu. Merekalah yang membesarkannya tanpa pamrih. Menginjak umur enam tahun ia sudah terbiasa bergaul dengan kerbau, memandikan dan menggembalakan. Engiringnya ke sawah dengan Ki Lembung, memikul garu atau luku di belakangnya.
Memasuki uur sepuluh, ia mulai membantu bertani. Dan dalam perawatannya kerbau itu berbiak menjadi belasan.” (Toer, 1999 : 70 – 71).

Berdasarkan kutipan ini, dapat diketahui bahwa pada masa kecilnya Arok adalah anak yang dibuang olehorang tuanya dan ditemukan serta dipelihara oleh Ki Lembung dan istrinya di sebuah desa bernama Randu Alas.
Pada tahap pengenalan ini diceritakan pula riwayat singkat dari Dang Hyang lohgawe yang menjadi guru dari Arok. In dapa dilihat pada kutipan berikut :

“Setelah membacai naskah yang ditemukan dalam sebuah gua, yang tidak ditinggali, ia tak jadi bertapa….
Ia tinggalkan gua itu, turun dari gunung ke Tuban dan berlayar menuju ke Benggala. Ia bertekat hendak mencari rahasia kekuatan Buddha, mengapa sampai dapat mengalahkan kekuatan-kekuatan Syiwa.
Sampai di Langka ia berkenalan dengan seorang biksu Viriyasanti….
Dengan demikian ia tak jadi pergi ke perguruan tinggiNalandauntuk empelajari agama Budha Mahayana dan Tantrayana ataupun Mantrayana. Ia mempelajari Buddha Hinayana, mempelajari dari awal bahasa Pali. Lima tahun ia tingga di Langka, tidak pernah menjenguk perguruan tinggi nalanda, berkelana ke Colamandala Burma dan Campa, kemudian kembali ke Jawa.
Buddha Hinayana tidak pernah jadi keyakinannya. Jug Buddha Mahayana, tantrayana, Mantrayana. Ia tetap seorang Syiwa.
Kembali ke Jawa, di Kediri, ia beruasaha membangkitkan semangat rekan-rekannya untuk mendudukan kembali Hyang mahadewa Syiwa pada cakrawatinya ang sesungguhnya. Dan bukan tanpa hasil. Lohgawe sudah mulai melihat kebangkitan Sywa, tinggal satu langkah lagi, dan ia sudah dapat mempengaruhi Sri Baginda Kretajaya. Tapi Mpu Tanakung adalah bentengbaginda yang tak dapat dilaluinya. Ia bahkan terpental jauh, menyelamatkan diri k Tumapel sekarang. Namun kaum brahmana tetap menghargainya. Dalam suatu sidang Brahmana barang tujuh tahun yang lalu telah dikeluarkan gelar Dang Hyang untuknya dan lohgawe sebagai sebutan untuk pribadinya yang tak jera-jera bekerja demi kemulian Hyang Syiwa. Juga untuk ketinggian dan keluasan ilmu yang dikuasainya. Sejak itu ia dipanggil orang Dang Hyang Lohgawe.” (Toer, 1999 : 130-132)

Roman ini memasuki tahap Rising Action atau tahap peningkatan konflik pada saat kaum Brahmana yang sementara bersidang mendengar bahwa Dedes putrid sahabat mereka Mpu Parwa telah diculik dan dipaksa menikah oleh Tunggul Ametung.
Peristiwa penculikan ini mendorong mereka menetapkan keputusan untuk menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung. Adapun orang yang mendapat tugas ini adalah Arok. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Menjelang penutupan telah dilahirkan jadi, bahwa peristiwa Dedes tidak akan terjadi lagi, bahwa itu adalah pengkhianatan terakhir atas kehormatan kaum Brahmana. Untuk itu kaum Brahmana mengakui kemestian untuk bertangan satria, dan bahwa satria itupun harus diperlengkapi dengan segala syarat kesatriaan. Semua untuk membangun kaki perkasa Nandi, dan dengan demikian ia bisa jadi kendaraan Hyang Mahadewa Syiwa di tengah-tngah cakrawatinya.” (Toer, 1999 : 162)

Konflik dalam cerita ini makin meningkat ketika usaha menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung ini makin mendekati pusat kekuasaan. Hal ini ditandai dengan berhasilnya Arok menyusup ke dalam pekuwuan Tumapel dengan menjadi prajurit atas bantuan dang Hyang Lohgawe dan bertemu dengan Dedes. Dalam pertemuan ini mereka memutuskan untuk bekerja sama menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Dedes masuk ke bilik agung dengan tubuh mengggil. Begitu Arok menyatakan kesanggupan ia mengerti, ia telah ersekutu dengan pemuda itu
Untuk menjatuhkan Tunggul Ametung. Kesedaran, bahwa ia sedang menempa maker, dirasakannya suatu hal yang sangat besar dan tubuhnya kurang kuat menampung. Melintas wajah Mpu Parwa di hadapannya, ayah tercintanya ini mengangguk membenarkan. Kemudian melintas wajah Dang Hyang Lohgawe. Brahmana itu dilihatnya mengangguk membenarkan.” (Toer, 256-257).

Konflik ini terus meningkat dengan munculnya beberapa kelompok lain di sekitar kekuasaan Tunggul Ametung yang juga ingin merebut kekuasaan di tengah kekeruhan situasi politik di Tumapel. Kelompok-kelompok ini di samping berkonfrontasi dengan Tunggul Ametung juga berkonfrontasi dengan pihak Arok.
Kelompok ini antara lain kelompok Empu Gandring. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :


“Dalam waktu cepat ia dapat ketahui ada tiga orang bekas jajaro telah menggarap lading Mpu Gandring. Di pabrik terdapat lima orang. Semua dimasukan Mpu Gandring sendiri.
Ia juga mengetahui Dadung Sungging, sering menemui Mpu itu, baik di pabrik maupun di rumahnya..
Arok memrintahakan seorang anak buahnya yang dianggapnya cerdas untuk mendekati Dadung Sungging, mendapatkan siapa-siapa saja emannya, dan didapatkannya jarring-jaring yang tidak begitu luas tetapi ketat.
Benar Dadung Sungging eorang anggota gerakan rahasia, dan sebua gerakan itu berpusat pada Mpu Gandring.” (1999:284)

Kelompoklain adalah kelompok yang dipimpin oleh Yang Suci Belakangka. Kelompokini ingin menempatkan kekuasaan Kediri langsung di Tumapel. Caranya denganmenggulingka kekuasaan Tunggul Ametung danmengangkat keluarga Sri Baginda sebagai penguasa di Tumapel. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut :

“Belakangka merasa puas dapat menggengam pasukan kuda Tumapel di dalam kekuasaan Kediri. Dalam waktu belakangan ini utusan-utusanya tak pernah mengalami gangguan atau hilang di tengah jalan. Ia selalu perintahakan utusan menempuh jalan utara yang bercabang-cabang , sehingga pencegatan dan penyusulan lebih mudah dapat dihindari, kecuali bila benar-benar kepergok.
Ia telah berhasil melumpuhkan sag pati dan para menteri. Mereka tinggal menjadi boneka-boneka yang patuh….
Ia telah mengisyaratkan pada Kediri agar sudra terkuat yang seorang satria dan bahwa waktu untuk itu telah hamper selesai. Bila kerusuhan-kerusuhan telah dapat dipadamkan, Tunggul Ametung sudah akan sangat lelah, dan keluarga sri Baginda dengan mudah akan dapatdi tempatkan di Tumapel.” (Toer, 1999:310-311)

Tahap klimaks atau puncak dari cerita ini adalah runtuhnya kekuasaan Tunggul Ametung di Tumapel akibat perlawanan rakyat yang diwujudkan dengan mobilisasi kekuatan rakyat ersenjata ke usat pemerintahan Tumapel di Kutaraja. Perlawanan ini di pimpin oleh seoranglelaki bernama Arok. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“kini mereka mulai mengetahui, benar-benar pasukan besar Arok sudah datang menerjang kota dari tiga jurusan. Tak ada tempat yang mereka gunakan untuk berlindung. Asrama yang pada mula mereka gunakan untuk berkumpul, kini mereka tinggalkan lagi dalam keadaan bingung tanpa perwira tanpa tamtama. Mereka hanya bisa mengangkuti harta benda paling berharga, membela diri secara perorangan danmelarikan diri kea rah timur…. Daerah hutan belantara yang belum terjamah manusia.
Gelombang dari luar kota menguasai Kutaraja setapak demi setapak, meninggalkan prajurit-prajurit Tumapel bergelmpangan, dan mendesak terus Tunggul Ametung di Tumapel. Gedung pekuwuan terkepung rapat dengan tombak. Sorak parau makin menderu-deru, menggetarkan para tamtama yang kebingungan menunggu di pendopo. Kemudian orang melihat Kebo Ijo keluar dari bilik dengan pedang berlumuran darah….
Paramesywari didampingi oleh Arok dan dikawal oleh regu besar bertobak naik dari depan ke pendopo. Orang bersorak menyambut.” (Toer, 1999:390-391)

Berdasarkan kutipan ini, dapat diketahui bahwa Tunggul Ametung akhirnya mati dibunuh oleh kebo Ijo pada saat Kutaraja diserbu oleh pasukan dari Arok.
Cerita ini berakhir aau selesai dengan diangkatnya Arok sebagai Akuwu di Tumapel. Pengangkatan ini dilakukan di hadapan rakyat yang telah bersama-sama menggulingkan Tunggul Ametung. Pengangkatan ini
Dilakukan oleh Dang Hyang Lohgawe. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Aku, Dang Hyang Lohgawe, dengan petunjuk Hyang Mahadewa telah benarkan dia, Arok, menjadi Akuwu Tumapel, berilah hormat pada Akuwu baru ini….” (Toer, 1999:410)


KESIMPULAN


Berdasarkan uraian-uraian tentang tahap-tahap perkembangan cerita ini, dapat disimpulkan bahwa roman Arok-Dedes karya pramoedya Ananta Toer ini menggunakan alur sorot balik atau alur mundur.




DAFTAR PUSTAKA


Ali, L (Ed). 1967. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia Sebagai

Cermin Manusia Indonesia Baru. Jakarta : Gunung Agung.


Aminuddin, 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar

Baru.

Mido, F. 1994. Cerita Rekaan dan Seluk Beluknya. Flores : Nusa Indah.

Sudjiman, P. 1986. Kamus Istilah Sastra. Jakarta : PT Gramedia.

Toer, P. A. 1999. Arok Dedes. Jakarta : Hasta Mitra.



* Dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UNSRAT

PERTENTANGAN KASTA DALAM ROMAN AROK DEDES KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Oleh : Fredy M.S.B. Wowor, S.S*

PENDAHULUAN

Sastra adalah suatu bentuk gamaran konkret yang merupakan hasil kreasi manusia yang mempesona dan disampaikan dengan menggunakan bahasa. Di dalam sastra tecermin kehidupan manusia, kehidupan ini merupakan refleksi dari keadaan sosial dalam masyarakat (Sumardjo, J dan Saini K. M. 1986 : 3).
Roman merupakan karya sastra yang isinya mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang dialami manusia sepanjang hidupnya sejak lahir, dewasa, bahkan sampai mati.
Arok Dedes adalah sebuah roman sejarah karya Pramoedya Ananta Toer yang diangkat dari kisah sejarah berdirinya kerajaan Singasari. Roman ini menceritakan perjalan hidup seorang keturunan sudra bernama Arok dan seorang anak brahmana bernama Dedes. Roman ini menceritakan pula perlawanan kaum tertindas yakni rakyat jelata melawan kaum penindas yaitu penguasa. Perlawanan yang dipimpin oleh Arok ini akhirnya berhasil menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung dan menghancurkan pengaruh kerajaan Kediri di Tumapel. Sebuah peristiwa perubahan sosial yang sekarang dikenal sebagai revolusi.
S. N. Eisenstadt mengatakan dalam bukunya, “Revolusi dan Transformasi Masyarakat” bahwa revolusi adalah suatu proses perubahan yang radikal dan mendasar dalam seluruh tatanan kemasyarakatan yang mencakup perubahan kekuasaan pemerintahan dan konsep tatanan sosial. Perubahan sosial ini dilakukan dengan kekerasan (Eisenstadt, 1986 : 6).
Sebuah revolusi terjadi bukan karena kebetulan belaka, tetapi dilatarbelakangi oleh adanya masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di satu negeri.
Dalam bukunya yang berjudul, “Revolusi dan Kontra Revolusi” Karl Marx mengatakan bahwa :

“Setiap kali terjadi ledakan revolusi berarti selalu ada masalah-masalah sosial yang melatar belakanginya.” (Marx, 2000 : 2).

Salah satu masalah sosial yang melandasi terjadinya perubahan sosial yang mendasar atau revolusi yang terungkap dalam roman Arok Dedes ini adalah pertentangan kasta.


PERTENTANGAN KASTA DALAM ROMAN AROK DEDES

Sistem kasta adalah suatu system pengelompokkan sosial yang berdasarkan pembagian kerja yang mengikuti garis keturunan darah. Sistem ini merupakan penyimpangan dari sistem varna yang diformulasikan oleh Manu. Varna adalah sistem pengelompokkan sosial yang berdasarkan pembagian kerja yang mengikuti potensi dan kemampuan setiap orang (Krishna, 1999 : 460).
System kasta mengelompokkan masyarakat dalam beberapa tingkat yaitu kasta brahmana yang terdiri dari para pendeta atau pemimpin agama, kasta ksatria yang terdiri dari para prajurit dan aparat pemerintahan sipil , kasta waisya yang terdiri dari para pedagang, kasta sudra yang terdiri dari para pekerja yakni buruh dan petani. Disamping keempat kasta tersebut terdapat pula suatu kasta yang lain yang kedudukannya lebh rendah dari kasta sudra yaitu kasta paria yang terdiri dari kaum budak (Malaka, 2000 : 10-11).
Sejak masuknya kebudayaan India di Jawa, system kasta pun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, walaupun demikian teori tntang kasta tersebut telah membaur dengan pemahaman masyarakat pribumi pada waktu itu yang membedakannya dari yang berlaku di India (Bosch, 1974 : 17-18).
Dalam tulisannya yang berjudul, ”Sedikit Tentang Golongan-Golongan di Dalam Masyarakat Jawa Kuno” J.G. de Casparis engatakan bahwa ada tiga kelompok yang terpisah-pisah dalam masyarakat jawa kuno yitu yang pertama, kelompok penduduk desa atau rakyat jelata, kedua, kelompok bangsawan yang terdiri dari sang prabu dan keluarganya serta aparat pemerintahnya, ketiga, kelompok agama yang terdiri dari para pendeta atau pemimpin agama (Suleiman, 1985 : 58).
Pada masa pemerintahan Sri Erlangga (1020-1042), system kasta mengalami penyesuaian dan penyederhanaan. Sistemini dikenal dengan nama Triwangsa. Triwangsa terdiri dari brahmana, ksatria dan sudra.
Mengenai hal tersebut Pramoedya Ananta Toer mengemukakan dalam roman Arok Dedes :

“Apapun kekurangan wangsa ini ia mulai mengagumi dharma mereka pada kehidupan, penghapusan kasta waisyia, karena memang tak ada kaum waisyia berdara Hindu. Ia mulai melihat adanya pembagian Triwangsa Erlangga itu secara lebih jelas : kasta brahmana dan satria yang berdarah Hindu dan kasta sudra yang ta mengandung dalam dirinya. Kasta itu tenyata ditentukan oleh darah.” (Toer, 1999:246)

Dalam pelaksanaannya triwangsa tidak secara mutlak berdasarkan pada garis eturunan darah, tetapi lebih didasarkan pada watak dan perbuatan seseorang dalam masyarakat atau dharmanya dalam kehidupan.
Hal ini diungkapkan oleh pramoedya Ananta Toer dalam roman Arok Dedes ini :

“Erlangga pernah menjatuhkan titah : triwangsa bukan hanya ditentukan oleh para dewa, juga manusia bisa melakukan perpindahan kasta karena dharmanya, sudra bisa jadi satria. Sudra bisa jadi brahmana.” (Toer, 1999 : 65).

Berdasarkan penjelasan ini tersebut dapat diketahui bahwa triwangsa pada satu sisi lebih mendekati system varna yang juga ditentukan oleh watak dan perbuatan seseorang dalam masyarakat atau dharmanya dalam kehidupan walaupun pada sisi lain tetap berdasarkan pada pola hirarkisnya pada system kasta (Krishna, 1999 : 460).
Pada masa pemerintahan Sri Kretajaya (1185-1222 M) di Kediri, Triwangsa berpadu dengan perbudakan yang sebelumnya telah dihapuskan oleh Erlangga (Toer, 1999:2).
Adapun Tumapel sebagai daerah jajahan Kediri yang diperintah oleh Tunggul Ametung ikut pula mempraktekkan perbudakan di samping triwangsa. Penindasan terhadap manusia melalui system perbudakan ini telah melahirkan kembali suatu kelompok sosial yang derajatnya serendah binatang dan kedudukannya berada di bawah kasta sudra yaitu kaum paria atau kaum budak.
Kenyataan ini teungkap dalam roman Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer :

“Oti membuang muka. Ia hanya seorang budak, tak mungkin bisa bercampur dengan orang banyak yang bebas. Apalagi menyaksikan orang-orang besar.”
(Toer, 1999:24).

Akuwu Tumapel Tunggul Ametung erupakan seorang keturunan sudra yang berhasil menaikan derajat kastanya dengan menjadi penguasa negeri di Tumapel sehingga berhak memperoleh pengakuan sebagai seorang satria.
Berkuasanya seorangketurunan sudra yang telah disatriakan di Tumapel ini telah menimbulkan ketidakpuasan Yang mendalam di dalam hati para brahmana yang merasa bahwa mereka tidak pantas untuk diperintah oleh satria keturunan sudra ini.
Pertentangan ini terungkap dengan jelas dalam kutipan berikut ini “

“Di sela derap kaki kuda itu terdengar dalam ingatannya suara ayahnya : kaum satria adalah pemukul segala dosa ; dunia akan binasa karena mereka ; dan hanya kaum brahmana bisa selamatkan manusia dan dunia ; maka semua usaha kaum brahmana harus dipusatkan pada kembalinya tata tertib jagad pramudinata.” (Toer, 1999 : 92)

Usaha untuk mengembalikan tata tertib jagad pramudinata ini berarti pemulihan kembali kedudukan kaum brahmana sebagai wakil syiwa di dunia dan untuk itu kaum sudra atau kaum satria harus dikembalikan kepada kedudukannya semula sebagai bawahan dari kaum brahmana (Bosch, 1974 : 29).
Pandangan seorang keturnan brahmana kepada seorang keturunan sudra yang berhasil menaikan derajatnya menjadi satria dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Dedes berjalan tanpa kemauan. Ia dengar Yang Suci sekali lagi berbisik menindas :
“Basuhlah kaki yang mulia.”
Darah itu masih saja tak dapat membendung airmatanya dan menangis tersedan-sedan. Ia memprotes entah pada siapa : seorang brahmani yang harus mencuci kaki seorang sudra yang disatriakan oleh Kediri.” (Toer, 1999:10)

Adapun pandangan rendah seorang brahmani terhadap seorang sudra dapat dilihat dari ungkapan Dedes pada kutipan berikut :

“Kau tidak sedungu ayahmu. Kau takkan biki malu ibumu. Kalau kau wanita, kau adalah dewi, kalau kau pria kau adlah dewa. Ayahmu tak punya persangkutan dengan kau. Dengar kau jabang bayi ? Kau berdarah hindu, ayahmu sudra hina.” (1999 : 247)

Pandangan seorang keturunan satria terhadap seorang keturunan sudra yang telah disatriakan dapat dilihat dalam perenungan Kebo ijo seperti terungkap dalam kutipan berikut ini :

“Pikirannya mulai dibuncahi dengan pikiran indah. Tunggul Ametung seorang sudra. Ia anak satria. Ia benarkan Empu Gandring : Sudah semestinya antara Sang Akuwu dan paramesywari tak bakal adakeserasian. Tempat Tunggul Ametung terlalu jauh di bawah Ken Dedes. Dan dirinya sendiri jauh lebih dekat, seorang satria. Juga satria yang selama ini dihinakan oleh Sang Akuwu, tetapi menjadi tamtama, tak bisa lebih tinggi dari seorang kidang yang juga Cuma sudra. Para tamtama lain pun tidak puas dengan sikap Tunggul Ametung, mengetahui para kidang tidak dapat dikatakan tangguh sebagai prajurit.
Ia mengimpikan diri menjungkirka Tunggul Ametung dan dDedes mendampinginya.” (Toer, 1999 : 305)

“Sang Akuwu hanya seorang sudra yang disatriakan. Semua prajuritnya dianggap sudra, tak peduli dia satria, seperti sahaya ini.” (Toer, 1999 : 308)

Berdasarkan kutipan ini dapat diketahui bahwa dalam pandangan kaum satria, kaum sudra yang telah disatriakan tetaplah lebih rendah derajatnya. Hal ini disebabkan oleh garis keturunan mereka yang berasal dari sudra.
Kenyataan ini menunjukan adanya perbedaan pemahaman terhadap kasta dalam praktek triwangsa. Ini menyebabkan makin meruncingnya pertentangan kasta.
Tanggapan kaum sudra terhadap kaum satria dapat dilihat dalam kutipan berikut :

“Ia ingat betul kata-kata Ki Bango Samparan waktu itu :
“Prajurit-prajurit itu ! Kerjanya hanya memburu-buru kita, mengancam kita yang terlambat menyerahkan upeti. Mengapa kau dikejar mereka ?”
Ia menceritakan duduk perkaranya.” (Toer,1999:57)

Adapun pandangan kaum budak terhadap kaum satria yang telah menjerumuskan mereka dalam penderitaan dapat dilihat dalam kutipan berikut ini :

“Dari sebelah barat pasukan si mata satu Mundrayana membawa serta dengannya semua penduduk desa kaki gunung Arjuna, laki dan perempuan, tua dan muda.
Pasukan bekas budak yang mendalam dendamnya terhadap Tunggul Ametung dan barisan jajaro ini, boleh menggunakan panah cepat yang dipelajarinya dari barisan biarawan dan biarawati.”(Toer, 1999:385)


PENUTUP

Berdasarkan seluruh uraian ini dapat disimpulkan bahwa pertentangan kasta yang terjadi antara kasta brahmana, kasta satria, kasta sudra dan paria atau budak akibat praktek triwangsa dan perbudakan pada masa pemerintahan Tunggul Ametung di Tumapel telah mengakibat krisis dalam masyarakat yang berpuncak pada terjadinya perubahan mendasar pada kekuasaan pemerintahan dan tatanan sosial di Tumapel.



DAFTAR PUSTAKA


Bosch, F. D. K. 1974. Masalah Penyebaran Kebudayaan Hindu di

Kepulauan Indonesia. Jakarta : bhratara.

Eisenstadt, S. N. 1986. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. Jakarta :

Rajawali.

Krishna, A. 1999. Paramhansa Yogananda Otobiografi Seorang Yogi.

Jakarta : Gramedia.

Malaka, T. 2000. Dari Penjara Ke Penjara Bagian Tiga. Jakarta : TePLOK

PRESS.

Marx. K. 2000. Revolusi dan Kontra Revolusi. Yogyakarta : Jendela.

Suleiman, S. 1985. Amerta 2. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.


Sumardjo, J. dan Saini K. M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta :

Gramedia.

Toer, P. A. 1999. Arok Dedes. Jakarta : Hasta Mitra.




*Dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakulas Sastra UNSRAT

KOMEDI DON JUAN DAN AJAKAN REFLEKSI

Oleh : Fredy Sreudeman Wowor*
I
Sabtu, 15 Desember 2007
Gedung Kesenian Pingkan Matindas tampak lain dari biasanya. Para pekerja seni dan pemerhati seni berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan dari Balai Teater yang berjudul “Don Juan, Laki-laki dari Utara, Laki-laki Bataru”. Naskah yang dipentaskan ini diadaptasi dari “Komedi Don Juan” Karya Moliere. Dramawan Prancis yang terkenal dengan lakon-lakon lucu tapi penuh sindiran. Adaptasi naskah ini dilakukan oleh Eric MF Dayoh berdasarkan terjemahan Winarsih W. Arifin dan saduran Rudolf Puspa.
Pertunjukan yang dihadiri 150-an penonton ini mengisahkan perjalanan hidup Don Juan yang mengembara dari pelukan satu perempuan ke pelukan perempuan yang lain. Perjalanan hidup untuk memenuhi pilihannya menjadi manusia. Pilihan untuk menjadi manusia yang menghargai perasaan.Walau akhirnya dia harus berhadapan dengan kenyataan akan betapa pahitnya pilihan itu karena banyak orang tidak senang dengan pilihannya itu terlebih lagi Elvira istrinya.
Keyakinannya untuk memilih hidup dalam ketidaksetiaan dan mereguk kenikmatan fana sebagai syarat untuk menjadi manusia modern dapat kita simak dalam dialog Don Juan di adegan 3 :
”Hah! Kesetiaan bukanlah syarat utama manusia modern. Itu hanya kekonyolan masa lalu, ketika teknologi dan segala macam pengetahuan, baru menjadi milik segelintir orang, yang lalu disebut kaum terpelajar. Hanya kakek-nenek yang menganutnya. Di masa sekarang, setiap perempuan muda mempunyai hak untuk memikat siapa saja yang diinginkannya. Dan yang dipikat punya hak melayaninya. Ini kodrat, bung ! Manusiawi! Coba bayangkan, betapa indahnya menikmati tumpahan gelorah asmara, mendengar rintihan kerinduan : malu-malu tapi suka, disentuh gelora gairah laki-laki yang membuncah, mengajak kegairahan liar di balik kelembutan dan rasa malu-malu, membelit diri dalam gelora permainan libido yang menakjubkan, sekaligus menjijikkan dan tak beradab! Mencintai, memiliki, menaklukan, dan saling melibas. Itulah anugerah, talenta tamang…yang mesti dinikmati, agar tak sia-sia dan mubasir. Saling memberi dan saling melengkapi. Tak ada kekuatan apapun di muka bumi ini, yang sanggup membendung hasrat menguasai sesama untuk menaklukan dunia. Sebagaimana Iskandar Zulkarnaen, saya pun ingin menjamah dunia, memperluas jangkauan asmaraku.”
Berdasarkan dialog ini, kita bisa mendapatkan gambaran betapa paralelnya persoalan cinta dan persoalan kekuasaan.
Pahitnya sebuah pilihan dapat kita simak dari kata-kata Don Juan di adegan 5 berikut ini :
“Hah! Hantu, setan, neraka, sorga,aku tak perduli. Aku hanya menjalani sejarah yang telah dituliskan untukku. Kalian hanya melihat akibat. Apakah kalian mempertimbangkan sebab-musababnya? …. Tuhan inilah aku, Don Juan ciptaanmu! Mendamba cinta dari lorong-lorong sampai perampatan, dari mal hiruk pikuk hingga ke kafe-kafe temaram…Hah ! Bullshiit ! … Apa kamu tahu, sejak kecil aku terbiasa dengan uang sebagai jalan keluar untuk segala-galanya. Apa kamu tahu, Hah!? Enak saja nasihati aku…Dimana mereka ketika aku sedih dan menangis? Ketika aku menahan rindu dan ingin mendengar sapaan? Ketika aku kalut, bingung dan tak sanggup mengambil keputusan untuk memilih? Selalu yang dicekokin hanya kehormatan dan gengsi keluarga. Begitulah aku belajar hidup selama ini!...Munafik ! Aku tak takut, karena uang adalah jalan keluarnya….
Yah! Karena aku dicap sebagai pencemar kehormatan keluarga besar. Zaman edan,gila! Orang lebih suka menari dengan topeng menjadi pemain sulap dan akrobat. Mengolah hidup dengan kelicikan sambil mengumbar janji-janji sorga yang kosong, tapi diyakini sebagai tindakan suci….
Mana lebih penting, dari dari kemunafikan yang sudah dianggap kebajikan? Hah! Munafik telah menjadi pekerti dalam kesantunan, dalam pergaulan bersama. Orang tak segan-segan bersembunyi di balik nilai-nilai kebenaran, agar tetap bisa tampak suci, bahkan bisa mendapat pembelaan di mana-mana, menghilangkan rasa bersalah dan berdosa.
Aku terus didesak untuk bertobat,seolah-olah aku sumber kebejatan itu. Benar-benar terlalu! Kenapa mata ini tak sanggup melihat balok yang ada di depannya? (Setelah diam sejenak). Baik, Elvira, hari memang telah larut, tapi janganlah menolak keinginanku untuk mengantarmu pulang, karena disana kita bisa lunaskan semua kegundahan yang terus meronta-ronta di hati kita….”
Dan demikianlah kisah ini usai, seperti nyanyian orkes bamboo di adegan 6 :
“inilah, sepenggal kisah hidup anak manusia
kita semua ada di dalam cerminnya
berkaca bersama
berbenah bersama
karna,don juan memang don…
karna don, memang soal kita bersama…”
Pentas yang disutradarai oleh Eric MF Dayoh ini menampilkan Franky Supit (Don Juan), Donna Keles (Elvira), Sylvester Setligt (Sagan), Irene Buyung (Gusmar), Sandra Dewi Dahlan (Karlote), Ventje Mait (Pier), Melissa Nayoan (Maturin), Frangky Kalumata (Narator), Servy Maradia (Pelayan), dan Ferro Kuron, Roy Kumaat, Dolfie pantouw (Orkes Bambu/Pigura).
Adapun pelaksana pentas produksi ke 9 Balai Teater ini adalah Teddy Kumaat, Donna Keles, Recky Runtuwene dan Frangky Kalumata. Penata artistik : Ilham Nasikin, Penata Busana : Bebe, Penata Rias : Choi.
Hal penting yang bisa dicatat dari pementasan ini adalah penampilan Sylvester (Sagan) yang dinamis dan berhasil menggelitik tawa sekaligus membuat kita makang hati dapa terek, patut diacungi jempol, begitu pula penampilan Irene (Gusmar), Sandra (Karlote), Melisa (Maturin), Servi (Pelayan), yang bisa mengimbangi kedinamisan Sylvester. Penampilan Frangki Supit dan Fence Mait cukup menggelitik walaupun mesti diakui faktor daya tahan napas cukup mempengaruhi kedinamisan mereka. Penampilan Donna Keles berhasil memberikan nuansa serius di tengah kekocakan sagan dan kekenesan Don Juan. Begitu pula penempatan orkes bambu di atas panggung bagiku cukup menimbulkan efek dalam menjaga momen-momen transisi antara adegan yang satu ke adegan yang lainnya.
Terlepas dari adanya keterbatasan akibat kondisi gedung seperti pohon natal di depan panggung yang cukup mempengaruhi penglihatan dan lampu yang menyala tiba-tiba di tengah penonton, saat pertunjukan berlangsung, pentas ini mengasyikkan dan berhasil memancing gelak tawa sehingga penonton bisa bertahan dari awal sampai akhir pertunjukan. Apalagi inovasi yang berhasil dilakukan oleh sutradara pada adegan perkelahian antara Pier dan Don Juan berhasil memunculkan ingatan purba melalui pukulan tambor kabasaran, bagaimana dahulu orang bertarung memperebutkan perempuan tidak selamanya dilakukan dengan pertarungan fisik tapi melalui adu kemampuan berdebat dengan puisi.

II
Selain pementasan teater,di tempat ini berlangsung pula sebuah sebuah dialog budaya yang menghadirkan Benny J. Mamoto. Seorang pemerhati seni yang berhasil mendorong kajian-kajian, symposium-simposium, dan penerbitan buku-buku seni budaya serta mengadakan festival-festival seni budaya Sulawesi Utara seperti festival Maengket, Kabasaran, tari Jajar, Mahamba, musik Kolintang, musik Bia, dan tari Kabela.
Dalam dialog yang dipandu oleh Hendra Zoenardji ini, hadir para wartawan dari berbagai media massa dan para seniman Sulawesi Utara dari berbagai generasi seperti Eric MF Dayoh, Iverdikson Tinungki, Ari Tulus (SAT Tomohon), Ie hadi G, Deni Pinontoan (Radio Suara Minahasa), Greenhill Glanvon Weol (KONTRA), Vick Chenore (Teater Karang Mantra), Jenry Koraag (KAMISAMA), Rulan Wawoh, Frangky Kalumata, Inggrid Pangkey (KAMISAMA), Huruwati Manengkey, Hence Makalew, dan Bobby Anggai (Teater Club fakultas SASTRA UNSRAT), Andre GB (9 SOCIETY), Ifan Kiraman (KKBR Manado), Maikel Booluis Pelealu (Teater Bukit Hijau), Richard Rhemrev, Frangki Supit, Inyo Rorimpandey, Fence Mait, Joni Sangeroki, Roy Kumaat, Dolfie Pantouw, dan Ferro Kuron.
Dalam kesempatan ini Benny J. Mamoto menyampaikan beberapa pokok pikiran berkaitan dengan usaha-usahanya mendorong kemajuan seni budaya Sulawesi Utara. Dia mengatakan bahwa ada 2 alasan yang melatar belakanginya untuk mengambil peran aktif mengurus kebudayaan.
Pertama, karena selama seperempat abad ini, ia menekuni secara optimal profesinya sebagai seorang polisi, aparat hukum dan kamtibmas maka dia menjadi orang yang sangat menyadari mutlak pentingnya faktor budaya. Betapa banyak problem sosial dan hambatan dalam penegakan hukum yang berpangkal dari masalah nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat.
Kedua, karena sebagai anak keturunan Minahasa Sulawesi Utara yang tumbuh di rantau, ia ingin menikmati kehangatan dari akar budayanya dan menerima kekayaan batin dari kebudayaan yang luhur ini.
Apakah salah jika saya ingin lebih dekat dengan kebudayaan leluhur saya sendiri? Adakah sesuatu yang bisa mencabut hak azasi saya di bidang kebudayaan ? Tanyanya.
Dia menjelaskan bahwa apa yang telah dilakukannya bersama teman-teman dengan mengedepankan segi kuantitas, seperti sejumlah rekor MURI untuk berbagai cabang seni tradisional secara massal, tak lain dari semacam upaya untuk membangun kesadaran dan ingatan masyarakat luas bahwa seni budaya adalah satu faktor. Seni budaya kita ada. Seni budaya adalah bagian eksistensial diri kita sendiri. Kita tidak dapat mengabaikannya begitu saja.
Beberapa pokok pikiran yang disampaikannya mengawali dialog budaya ini merupakan pokok-pokok mendasar yang disampaikannya dalam Pidato Refleksi Akhir tahun Bidang Seni Budaya berjudul Sekedar Ajakan Refleksi Untuk Rekomitmen Peran Budaya dan Budayawan.
Iverdikson Tinungki mengusulkan agar supaya dibuat sebuah antologi sastra yang melibatkan seluruh seniman Sulawesi Utara dengan ukuran ketebalan tertentu untuk mendapatkan rekor MURI dengan ini diharapkan publik luar Sulawesi Utara dan dunia akan lebih mengenal kesusastraan kita.
Greenhill Glanvon Weol mengatakan bahwa perlu diadakan pembangunan basis-basis seni budaya ke seluruh pelosok daerah Sulawesi Utara, karena berdasarkan penelusurannya sejak tahun 2005 meliput iven-iven seni budaya dia menemukan kenyataan bahwa di pelosok-pelosok daerah Sulawesi Utara terutama Minahasa aktifitas seni berbasis kelompok atau sanggar sangat kurang bahkan di beberapa tempat sudah tidak ada sama sekali.
Dia menggambar visinya dengan mengambil perbandingan Gerakan Mawale (Mawale Movement) yang dilakukan para Peteater dan Sastrawan Muda Minahasa yang sejak penghujung tahun 2004 mengadakan pembangunan basis-basis teater di seluruh Minahasa dan melalui basis-basis teater ini diadakan pelatihan dan pendidikan dasar seni budaya terutama sastra dan teater, musik serta seni rupa. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dalam bentuk pentas-pentas dan pagelaran teater, pembacaan dan musikalisasi puisi, serta peluncuran buku. Ada sekitar 30-an buku telah diterbitkan secara underground sampai akhir tahun ini dan berdasarkan pendataan akan ada 25 biji buku siap terbit tahun 2008. Untuk memfasilitasi proses penerbitan ini telah dibangun 9 SOCIETY PRESS . Sebuah penerbitan independent yang akan memfasilitasi pendistribusian karya-karya sastra ini. Sejak akhir tahun 2004-2007 ini karya-karya berupa puisi, cerpen, novel dan drama ini telah disebarkan sampai di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia, Jerman, Belanda dan Amerika. Dalam perkembangan terakhir karya-karya ini punya kemungkinan dibaca di seluruh dunia seiring dengan di bangunnya sebuah blog sastra di internet yaitu sastra-minahasa.blogspot.com
Secara kritis dia memberikan tanggapan terhadap beberapa iven budaya yang dilakukan di hotel-hotel berbintang. Dia mengatakan, terlepas dari kepentingan promosinya, mesti selalu disadari bahwa dampak dari penyelenggaraan iven-iven di hotel-hotel berbintang ini dapat mengakibatkan terasingnya seni dari masyarakat yang justru menjadi sasarannya.
Bagiku pribadi, apa yang telah dilakukan oleh Benny J. Mamoto bersama teman-teman di Institut Seni Budaya Sulawesi Utara harus disambut baik dan didukung. Karena, apa yang dilakukannya untuk membangun citra dan identitas ini merupakan tugas kita juga.
Apalagi sekarang kita hidup di era globalisasi. Era dimana penyeragaman dan homogenisasi menjadi satu kemustian. Era dimana imperialisme budaya merajalela. Imperialism is the export of identity, demikian Edward Said dalam tulisannya On Jean Genet’s Late Works. Perjuangan budaya di zaman ini adalah perjuangan menegakkan identitas.
Pembangunan kebudayaan kita sebaiknya tidak cuma terkonsentrasi pada seni tradisi tapi juga musti melihat perkembangan seni kontemporer.
Dalam bidang musik perlu diadakan eksplorasi lebih jauh terhadap Makaaruyen dengan mengadakan kajian-kajian maupun workshop-workshop yang melibatkan para pemusik yang ada. Perlu juga diperhatikan perkembangan musik populer seperti rock n’ roll dan metal mengingat banyaknya anak muda yang membentuk band-bandnya sendiri. Mereka sangat inovatif mencipta dan mengadakan konser-konser dengan dana seadanyanya serta berusaha merekam dan memasarkan karyanya. Contoh yang bisa saya berikan adalah Konser Malendong, Akustika dan Art For Heaven yang dilaksanakan di Ruang teater fakultas Sastra sejak tahun 2000.
Dalam bidang seni rupa, harus diadakan kegiatan workshop dan pameran-pameran dengan prioritas pada anak-anak dan kaum muda. Dalam bidang teater perlu di adakan workshop-workshop acting, penulisan naskah, dan pentas produksi teater. Kemajuan di bidang teater ini diharapkan akan menjadi landasan bertumbuhnya iklim perfilman kita, karena dengan pelatihan yang intens, problem aktor dan aktris serta naskah yang dapat menghalangi pertumbuhan kualitas penggarapan film dapat teratasi.
Dalam bidang sastra, perlu dikaderisasi angkatan penulis baru agar proses perkembangan tidak tersendat-sendat dan terputus-putus, ini bisa dilakukan melalui workshop penulisan kreatif dan penerbitan karya serta pemberian penghargaan bagi mereka yang menciptakan karya inovatif.
Semua ini dilakukan dengan memperhitungkan pembangunan wacana dan jaringan KESUSASTRAAN TEPI PASIFIK sebagai terobosan lebih lanjut untuk menjadikan kesusastraan kita menyebar ke seluruh dunia.
Pada ujungnya semua ini bermuara pada perlu dibangunnya sekolah seni yang akan mendorong lahirnya seniman-seniman yang sadar akan keberadaan dirinya dan memiliki daya tahan serta inovasi. Pembangun sekolah seni ini harus diimbangi dengan pembangunan pusat dokumentasi seni budaya Sulawesi Utara, sehingga penemuan-penemuan kreatif dan data-data historis yang sangat penting bagi eksistensi kita tidak tercecer, dicuri atau malah punah dari muka bumi.
Pembangunan pusat dokumentasi ini bagiku adalah langkah strategis untuk menerobos kebuntuan budaya selama 500 tahun terakhir ini,karena sejak pengetahuan baca-tulis dikenal oleh orang minahasa dan orang-orang Sulawesi utara lainnya mulai dari kisaran tahun 1500-an sampai sekarang, belum ada sebuah pusat dokumentasi yang benar-benar memenuhi kriteria : menampung semua sumber pengetahuan dan informasi tentang Minahasa serta daerah-daerah lain di Sulawesi Utara, baik itu pengetahuan dan informasi dari masa lalu maupun masa kini.
Pendapatku ini tentu saja tidak bermaksud menafikan apa yang telah dilakukan oleh Dr. Bert Supit dengan Perpustakaan Minahasanya dan Syeni Watulangkow dengan Perpustakaan Masarangnya.

III
Kegiatan lain dalam rangkaian pementasan teater di akhir tahun ini adalah Pidato budaya yang disampaikan oleh Benny J Mamoto. Pidato budaya ini mengajak para pekerja budaya berefleksi untuk membangun kembali komitmen peran budaya
Seluruh kegiatan ini ditutup dengan pembacaan puisi para penyair Sulut bersama beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama. Pembacaan puisi ini di awali oleh Pastor Cardo Renwarin, Gembala Teddy Batasina selaku Pucuk Pimpinan KGPM, Iverdikson Tinungki, Ie Hadi G, John Piet Sondak, Fredy Sreudeman Wowor dan Greenhil Glanvon Weol

* Penyair, Dramawan, aktif di Teater Kronis Manado
Sekarang Dosen di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unsrat

PELAJARAN DARI SEBUAH BIOGRAFI*

Oleh :

FREDY M.S.B. WOWOR**


I
Mengawali tulisannya tentang riwayat hidup Alexander, Plutarch, Pelopor penulisan biografi dari Yunani mengatakan :

“In writing the Lives of Alexander the Great and of C├Žsar the conqueror of Pompeius, which are contained in this book, I have before me such an abundance of materials, that I shall make no other preface than to beg the reader, if he finds any of their famous exploits recorded imperfectly, and with large excisions, not to regard this as a fault. I am writing biography, not history; and often a man's most brilliant actions prove nothing as to his true character, while some trifling incident, some casual remark or jest, will throw more light upon what manner of man he was than the bloodiest battle, the greatest array of armies, or the most important siege. Therefore, just as portrait painters pay most attention to those peculiarities of the face and eyes, in which the likeness consists, and care but little for the rest of the figure, so it is my duty to dwell especially upon those actions which reveal the workings of my heroes' minds, and from these to construct the portraits of their respective lives, leaving their battles and their great deeds to be recorded by others.” (Plutarch,lives,volume 3,Alexander, 1892:300)

Bertolak dari pendapat ini, Saya dapat mengatakan bahwa dasar pemikiran
yang melandasi sebuah penulisan biografi adalah untuk menunjukan kualitas moral
seseorang.

II

Salah satu kenyataan yang paling ironis dari perjalanan sejarah repoblik ini
adalah berkembangnya pandangan bahwa Orang Manado adalah kaki-tangan Belanda. Pandangan ini lambat-laun membentuk stigma bahwa Orang Manado tidak bisa dipercaya.
Membaca riwayat hidup A.E.Kawilarang – Untuk Sang Merah Putih karya Ramadhan KH ini, kita dapat menemukan salah satu akar histories dari berkembangnya pandangan ini.
Pandangan yang menuduh orang Manado sebagai kaki-tangan Belanda ini ternyata berkembang seiring berkuasanya Jepang di Indonesia. Ini dapat dibaca pada kutipan berikut ini :

“Kemudian saya mendengar desas-desus di sana sini bahwa penangkapan terhadap orang-orang Indonesia, dan yang dimaksud adalah orang-orang Ambon dan Manado, akan dilakukan. Yang menyakitkan hati adalah desas desus itu dibarengi dengan tuduhan, bahwa sepantasnya orang-orang ini ditangkap, karena mereka – maksudnya orang-orang Indo, Ambon dan Manado – selalu di pihak Belanda. Mereka adalah orang-orang yang dianakemaskan oleh Belanda,katanya…. Dan tuduhan itu terasa lebih menyayat hati saya, karena justru terdengar pada waktu rasa nasionalisme tumbuh pada diri saya.” (Bab 3,hal:21).

“Tetapi di bulan juni 1944 saya mendengar lagi akan adanya razia. Orang-orang Manado dan Ambon lagi pada umumnya yang jadi sasarannya. Kali ini yang akan melakukannya adalah Keimubu(polisi).” (Bab 4, hal:26)

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, kita dapat melihat bahwa selain orang Manado, orang Ambon dan orang Indo juga menjadi sasaran tuduhan ini. Dampak kemudian dari stigma seperti ini menurut saya adalah berkembangnya politik yang lebih bersifat rasialis.
Faktor lain yang ikut mengukuhkan pandangan ini adalah kenyataan bahwa orang Manado, orang Ambon dan orang Indo ini beragama Kristen. Ini terungkap pada kutipan berikut ini :

“Memang banyak penyakit begitu sedang merajalela dalam zaman revolusi sekarang ini, dengan alas an pihak yang dituduh itu anti-merah-putih, pengkhianatan, mata-mata, dan yang paling menyedihkan dituduh karena berasal dari suku Manado, Ambon atau karena beragama Kristen.” (Bab 5,hal:36).

III
Menjadi orang Manado di zaman Jepang, berarti menjadi sasaran tuduhan dan terlebih menjadi sasaran penangkapan dan penganiayaan. Ini bisa kita lihat pada kutipan berikut :

“Banyak orang di Palembang, Plaju, Sungai gerong yang ditahan dan disiksa , malahan sampai dibunuh kenpeitai. Sembilan puluh persen dari orang-orang yang ditahan itu adalah orang-orang Ambon dan Manado” (Bab 3,hal:20)

Sebagai orang Manado, Alex Kawilarang tidak luput juga menjadi sasaran penangkapan. Ia menjadi tawanan perang Jepang di Bandung tahun 1942. tapi ia berhasil melarikan diri bersama kawan-kawannya. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Batalyon Depot Bandung, 21 April 1942. Besok kami akan digunduli. Ya, besok kami akan diberi tanda khusus yang bakal tambah menyulitkan. Melarikan diri dari kamp tawanan perang sesudah digunduli tentu mudah ditangkap kembali. Cuma malam ini kesempatan yang masih ada pada saya. Saya sudah bertekad. Bulat tekad saya.”
(1988:5)



“Waktunya tiba. Jam sepuluh malam. Udara dingin menusuk. Saya sudah menetapkan, kami dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri dari tiga orang, yaitu saya, Rachmat Suryo dan Tjhwa Siong Pik. Kelompok kedua terdiri Soeprapto dan kadir,. Sedang kelompok ketiga adalah Mokoginta dan Suprio. Saya sudah tetapkan cara kami keluar dari daerah tawanan ini. Saya katakana, kalau kelompok pertama sudah keluar, hendaknya kelompok yang kedua jangan segera mengikuti kami. Tunggu dulu barang lima menit. Setelah itu barulah kelompok kedua boleh keluar. Begitu juga halnya dengan kelompok ketiga.” (Bab 1, 1988, hal:6)

Dia tertangkap kembali pada tahun 1943. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Pada suatu hari, di bulan November 1943, sewaktu saya masih tidur, pagi-pagi sekali Kenpei menangkap saya dan dengan sebuah truk saya dibawanya ke penjara. Di sana saya tahu bahwa ini merupakan razia. Orang-orang Manado, Ambon, Indo dan beberapa orang lainnya ditangkap.”(Bab 3,hal:21-22)

Dalam tahanan ia mengalami penganiayaan. Ini bisa dilihat pada kutipan berikut :

“Kedua belah tangan saya diikatnya sesudah kedua pergelangan tangan saya dibungkus dulu dengan anduk. Tentu saja ketika itu juga terasa sakit di kedua belah ujung pundaksaya…. tindakan si Jepang itu berikutnya adalah menarik dulu tali itu sampai kedua tangan saya sudah di belakan, di atas kepala saya, talidiikatkan pada tiang yang lain dan lalu menendang bangku tempat saya berdiri, sehingga dengan seketika badan saya tergantung. Bukan main sakitnya…. Kemudian diambilnya setangkai tongkat…. Tiba-tiba ia mulai dengan memukul saya. Mulai dari kaki sampai ke pundak. (bab3,hal:23-24)

Selain mengalami langsung siksaan dari jepang, dia juga menjadi saksi dari kekejaman jepang terhadap tahanan-tahanan lainnya. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Saya dibawa dengan kendaraan si Jepang itu ke asrama polisi tanjung karang. Saya ditahan di sana. Dimasukan ke dalam sel kecil berukuran 1 X 2 meter. Celaka ! Cuma ada satu lobang tempat mengintip ke luar…. Di sebelah kiri dan kanan saya orang Manado juga. Yang di sebelah kiri Kalesaran namanya. Lama ia tidak diperiksa. Setelah satu kali ia diperiksa, ia menghilang begitu saja. Kelak baru saya tahu, bahwa setelah ia diperiksa satu kali itu, ia tidak kembali, meninggal…. Disamping saya menyaksikan orang-orang disiksa, saya sendiripun disiksa.tangan saya dikebelakangkan, diikat. Kakisaya dirapatkan, diikat. Paha saya diikat. Punggung dan dada saya diikat. Saya dikerek. Ditelentangkan. Dipikuli. Dinjak. Ditempeleng muka saya. Habis-habisan. Paling celaka adalah di-“waterproof”. Mulut dan hidung disumpal dengan handuk. Air dituangkan ke dalam mulut. Dengan begitu saya tidak bisa bernafas. Tetapi tiap kali saya dipaksa untuk bernapas. Itu berarti saya minum air yang dilogogkan. Dan bukan satu dua cangkir, melainkan selama tujuh jam saya disiksa begitu, sampai-sampai harus menghabiskan air sebanyak kira-kira dua puluh ember tempat lateks (Karet) yang isinya 20 liter. Tentu saja perut saya menjadi kembung. Mua-mula mereka bersiri di atas perut saya sampai air keluar…. Yang istimewa disini adalah bukan satu orang yang menyiksa saya . beberapa orang memukul saya, dengan tangan, dengan kayu, dengan lidi, dan ada yang menakut-nakuti saya dengan bayonet. Malahan ada yang menyiksa saya dengan garpu yang sedikit ditusukkan dan diputar ke perut saya…. Empat puluh hari saya ditahan di keimubu itu, dengan tujuh belas kalidiperiksa, diberondong dengan pertanyaan yang bukan-bukan, dan dipukuli habis-habisan.” (bab 4, hal : 27-28)

“Saya saksikan bagaimana seorang perempuan Tionghoa, yang pernah menyeludupkan barang ke Jakarta, disiksa oleh kenpei itu. Tak bisa lagi sayaceritakan disini. Selain ia dipukuli habis-habisan,ia pun diksa dengan rokok yang menyala, dengan ujung belati yang dipermainkan di depan buah dadanya”(Bab 3, hal:24-25)

IV

Pengalaman teraniaya sebagai tahanan Jepang ini pada akhirnya mendidik Kawilarang menjadi satu pribadi yang cerdas, berperasaan dan kuat. Satu pribadi dari seorang pemimpin. Pribadi seorang Touna’as.
Berdasarkan penuturan orang-orang tua, Bert Supit menuliskan bahwa kualitas seorang pemimpin di Minahasa diukur dengan pa’eren telu (tiga yang diperlukan) yaitu
Ngaasan, mempunyai otak, Niatean, mempunyai hati. Mawai, kuat dan dapat diandalkan.
Sebagai pribadi yang punya otak, kawilarang menampilkan diri sebagai orang
yang suka belajar. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Saya dibesarkan ditengah suasana colonial yang kemudia digoncangkan oleh kedatangan jepang. Waktu usia dua belas tahun di tarutung, saya sudah tertarik untuk belajar contoh-contoh perang kecil, sering membaca buku tentang anti gerilya dan gerilya. Malahan pernah saya diperbolehkan ikut serta latihan patroli satu hari suntuk antigerilya” (Bab 2, hal:13)

“Tentang diri saya sendiri ? Saya malahan mendapat studi wajib. Saya “Disekap” di kamar, diharuskan belajarkarena angka-angka saya kurang . Artinya, angka-angka saya untuk matapelajaran yang bukan militer, kurang sekali…. Tetapi ganjilnya adalah, dalam mata pelajaran yang saya sukai, dan itu adalah mata pelajaran yang khas militer, seperti pendidikan infanteri,serangan,pertahanan,taktik dengan antara lain mendekati musuh (naderingsmars), memperlambat pertempuran sambil mundur(vertragend gevecht) yang saya sudah duga akan dipergunakan jika jepang mendarat, gerilya dan antigerilya, menembak, latihan mars jauh dan cepat, haling rintangan, anggar, saya mendapat angka yang bagus. Malahan yang mendaat tanda istimewa sebagai satu-satunyadi seluruh KMA yang lulus dengan predikat “Ahli segala senjata” (meester in alle wapens) , ialah lulus dalam teori dan praktik mempergunakan anggar sable, floret dan senapan.”(Bab 2, Hal : 16)

“Ada keinginan pada saya untuk belajar. Dan kesempatan itu adanya di luar negeri. Maka pada suatu kesempatan bertemu dengan KSAD Jendral Nasution saya mengemukakan isi hati saya, dantawaranpun diajukan kepada saya untuk jadi atase militer.” (Bab 52, hal:285)

“September 1956, saya berangkat ke Washington,DC, Amerika Serikat, sebagai Atase Militer.” (bab 53,hal:287)


Sebagai orang yang mampu mengembangkan apa yang telah ia pelajari baik itu yang didapatkan dari pendidikan formal maupun yang didapatkan langsung dari pengalaman. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

Ketika diangkat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium Sumatra Utara sekaligus gubernur militer, Kawilarang mempelopori pembentukan pasukan khusus.
“Saya anggap perlu adanya pasukan khusus di Sumatra Utara, serupa pasukan komando(Green Berets) Inggris waktu perang dunia II. Maka saya bentuk satu kompi di bawah pimpinan Kampten B. Nainggolan di bulan februari 1950. tanda kompi itu, pada lengannya dipakaikan tulisan Ki-Pas-Ko, yang artinya Kompani Pasukan Komando.” (bab 37,hal:192).

“Saya merasa, gangguan-gangguan yang ditimbulkan DI/TII ini sangat merugikan kesatuan-kesatuan. Untuk melawan gerakan-gerakan gerombolan yang mobil itu, saya perhitungkan, perlu dibentuk suatu kesatuan yang terlatih bertempur secarakesatuan kecil sampai dengan dua orang saja, dan all round. Dan itu harus diciptakan, diadakan…. Dari latihan komando angkatan pertama ini dapat dihasilkan satu kompi operasional yang diberi nama Ki A…. tahun 1953, Ki Komando pertama ini (Ki A) diikutsertakan dalam operasi-operasi penghancuran DI/TII di daerah TT III/Siliwangi. Hasinya sangat memuaskan, terutama pada penyergapan konsentrasi gerombolan di gunung Rakutak….Begitu, teruslah berkembang kesko TT III/Siliwangi ini yang selanjutnya ditimbang terimakan pada tahun 1953 kepada inspektorat infanteri AD. Namanya diubah menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat dengan kependekkan KKAD…. Kemudian terkenal dengan sebutan RPKAD (Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat), Palu RPKAD (Resimen Para KomandoAngkatan Darat), kemudian Kopassandha (Komando Pasukan Sandhi Yudha), kemudian Kopassus (Komando Pasukan Khusus).

“Saya harus membohong,terpaksa harus membohong waktu itu. Itulah ilmu yang tepat untukdipraktekkan di zaman Jepang. Celaka kita bicara jujur pada waktu itu.” ( Bab 3, hal:18)

Sebagai pribadi yang punya hati, kawilarang menunjukan keberanian, keuletan dan kesanggupan merasakan perasaan pengalaman orang lain. Ini bisa dilihat pada kutipan berikut :

“Di jalan cikini yang akan membelok kearah jalan cilacap, pint jalan kereta api ditutup…. Di depan mobil kami ada sebuah mobil lain. Saya perhatikan benar. Seorang belanda dengan mengenakan pakaian seragam ada di dalam mobil itu…. Tiba-tiba mesin mobil yang dikemudikan tentara belanda itu berhenti. Mati. Kelihatan ia mencoba menghidupkan mesinnya, mengocok gas. Tetapi mesin mobil itu tetap mati…. Saya berkata kepada Mokoginta,”Moko, deze vent wordtdadelijk vermoord. (Moko, orang ini sebentar juga akan dibunuh). Percuma. Dia sendirian. Lebih baik kita Bantu mendorongnya.” Orang belanda itu menengok lagi ke belakang. Saya mangut-mangut, memberi isyarat. Ia seperti tidak percaya…. Maka Mokoginta yang mengemudikan mobil kami memajukan kendaraan kami sampai mencium bumper belakang mobil belanda itu. Bergerak, mesinnya hidup dan majulah mobil belanda itu. Dan si belanda itu mengacungkan jempolnya, lalu menggerakkan tangannya memberi hormat sambil menancap gas. Kemudian menghilang.” (Bab 7,hal:47-48)
(Berdasarkan kutipan ini kita bisa melihat kualitas moral seorang Touatean atau manusia yang punya hati sebagai salah satu criteria seorang touna’as dalam diri Kawilarang)

“Pada suatu hari datanglah polisi tentara denan seorang tahanan anggota Angkatan Bersenjata kita. Orang itu, setelah beberapa hari saja Belanda menduduki Sukabumi, sudah melporkan banyak pejuang kiata kepada TIVG(Territoriale Inlichtingen en Veiligheid Groep = Grup informasi Teritorial dan Keamanan) Belanda…. Saya belum pernah menghukum mati di luar pertempuran. Maka saya membicarakannya dengan kepala staf saya, Taswin. Pada waktu itu saya tringat kepada perkataan Benjamin Franklin tentang pengkhianat-pengkhianat waktu perang kemerdekaan Amerika Serikat. “They that can give up essential liberty to obtain a little temporary safety, deserve neither liberty nor safety.” (Barang siapa meninggalkan kemerdekaan hakiki untuk mendapatkan sedikit keamanan sementara, tidak patut memperoleh kemerdekaan maupun keamanan.) Maka kemudian setelah itu saya memberikan jawaban kepada polisi tentara kita,’tembak.’” (bab 22,hal:109)
(Sikap tegas seorang pemimpin dalam situasi tertentu.)

Sikap kawilarang yang lain bisa dilihat ketika ia mesti mengurus kapal terbang PBB yang mendarat darurat di Cilauteuteun karena kabut. Penumpangnya seorang colonel Amerika Serikat dan tiga orang Belanda yang masing-masing berpangkat mayor, sersan mayor dan prajurit. Ketika mereka dipisahkan Kawilarang mendengar prajurit belanda itu bertanya kepada yang berpangkat mayor apakah mereka akan ditembak mati. Dia disuruh diam oleh mayor itu. Saat mendapat keputusan dari Yogya pada jam 2 tengah malam untuk melepaskan ketiga orang Belanda itu, Kawilarang memutuskan langsung mengabarkan kabar gembira ini kepada mereka alasannya,”Lebih baik sekarang mereka diberi tahu supaya mereka masih bisa tidur setengah malam ini dengan tenang.” Kawilarang ingat betapa setiap orang yang dalam tahanan selalu merasakan bahwa tiap jam dari hidup mereka mungkin akhir dari hidupnya. Ini adalah hasil refleksinya ketika menjadi tahanan kenpeitai. Sikapnya ini kemudian mendapat penghargaan dan hormat tentara-tentara Belanda itu. Sikap dari Kawilarang ini adalah wujud dari semangat ksatria seorang prajurit.

Dalam pidato timbang terima tanggal 27 desember 1949 di markas tentara Belanda, di jalan serdang ,Medan. Kawilarang mengatakan khusus pada Jendral P. Scholten, Panglima Tentara dan Teritorium Komando Sumatra Utara, “Sekarang beberapa kata pribadi untuk anda. Tahun-tahun terakhir ini kita berdiri berhadapan, masing-masing dengan keyakinan untukmemberikan yang paling berharga kepada tanah airnya. Bulan-bulan terakhir ini kami telah bisamengenal anda dengan lebih baik dan menghargai anda sebagai bekas lawan, sebagai militer dan juga sebagai manusia” (Bab 35,hal:184).



Sebagai pribadi yang kuat dan dapat diandalkan, kawilarang mampu memimpin perang. Ia mampu memimpin kawan-kawannya melarikan diri dari tahanan Jepang, ia mempu memimpin pasukannya mengamankan Sumatra, serta melawan APRA,RMS, dan DI/TII.
Dia juga mampu menjunjung tinggi harga diri dan berpegang pada prinsip. Walaupun taruhannya adalah kesenangan pribadinya di masa depan. Ini bisa kita buktikan dengan pilihannya untuk bersama saudara-saudaranya membela piagam PERMESTA. Ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

“Bulan Maret 1958 saya menghadap duta besar Mukarto dan mengatakan, bahwa saya akan ke Sulawesi Utara. Sebelumnya saya sudah mengirimkan kawat ke KSAD, menabarkan bahwa saya meletakkan jabatan saya, berhubung tidak setuju dengan tindakan Pemerintah Pusat di Jakarta.” (bab 53,hal:292)

V

Apa yang bisa kita pelajari dari riwayat hidup seorang Alex E. Kawilarang ?
Menurut saya, kualitas pribadinya merupakan teladan bagi kita di zaman ini untuk menjadi pemimpin. Menjadi Touna’as.



* Disampaikan pada bedah buku Untuk Sang Merah Putih tanggal 17 maret 2009

** Sastrawan, Peteater, Dosen jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unsrat Manado